Paus Leo XIV Kecam Penggunaan Nama Tuhan untuk Legitimasi Perang Iran
Paus Leo Kecam Penggunaan Nama Tuhan untuk Perang Iran

Paus Leo XIV Kutuk Penggunaan Nama Tuhan untuk Melegitimasi Perang

Dalam khotbahnya yang penuh kewibawaan saat memimpin Misa Minggu Palma pada hari Minggu (29/03), Paus Leo XIV dengan tegas menolak segala klaim bahwa Tuhan dapat digunakan untuk membenarkan peperangan. Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik Iran yang telah memasuki bulan kedua, menciptakan ketegangan global yang semakin meningkat.

Pidato di Hadapan Puluhan Ribu Umat di Lapangan Santo Petrus

Berbicara di hadapan puluhan ribu umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus menekankan bahwa Yesus, yang ia sebut sebagai "Raja Damai", tidak boleh dijadikan alat untuk melegitimasi segala bentuk kekerasan bersenjata. "Saudara-saudari, inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, dan yang tidak bisa dijadikan pembenaran bagi perang oleh siapa pun," tegas Leo XIV dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Paus yang berasal dari Amerika Serikat ini mengutip ayat Alkitab untuk memperkuat argumennya: "Ia tidak mendengar doa dari mereka yang melancarkan perang, tetapi menolaknya dengan mengatakan: 'Walau kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarnya: tanganmu berlumur darah.'" Kutipan ini menjadi sorotan utama dalam khotbahnya, menegaskan bahwa doa dari para pelaku perang tidak akan didengar oleh Tuhan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kritik Terhadap Perang Iran Tanpa Menyebut Nama Pemimpin

Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan nama pemimpin dunia tertentu, Paus Leo XIV telah mempertajam kritiknya terhadap perang Iran dalam beberapa minggu terakhir. Dalam imbauan penutup misa, ia menyatakan keprihatinan mendalam terhadap umat Kristiani di Timur Tengah yang "menderita akibat dari konflik yang kejam". Leo XIV mengungkapkan, banyak dari mereka yang tidak dapat sepenuhnya menjalankan ibadah pada hari-hari suci akibat dampak perang yang meluas.

Paus telah berulang kali mendesak gencatan senjata dalam konflik ini, menunjukkan komitmennya terhadap perdamaian. Pada Senin (23/03), ia mengecam serangan udara militer sebagai tindakan yang tidak pandang bulu dan harus dilarang. "Pesawat seharusnya selalu menjadi pembawa perdamaian, bukan perang. Tidak seorang pun seharusnya takut bahwa ancaman kematian dan kehancuran datang dari langit," ujar Leo, tanpa secara langsung merujuk pada perang di Iran, namun konteksnya jelas mengarah ke situ.

Retorika Kristiani yang Digunakan Pejabat AS

Latar belakang pernyataan Paus ini juga terkait dengan penggunaan retorika Kristiani oleh beberapa pejabat Amerika Serikat untuk membela serangan gabungan Amerika-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Misalnya, dalam sebuah ibadah di Pentagon pada hari Rabu (25/03), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berdoa untuk "tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak layak mendapat belas kasihan", yang dianggap oleh banyak pengamat sebagai upaya untuk membenarkan aksi militer dengan dalih agama.

Paus Leo XIV, melalui khotbahnya, secara tidak langsung menanggapi hal ini dengan menegaskan bahwa agama tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan perang. Pesannya jelas: perdamaian harus menjadi prioritas utama, dan nama Tuhan harus dihormati, bukan dieksploitasi untuk konflik bersenjata.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga