Muhadjir: Muhammadiyah Pakai Kalender Hijriah Global untuk Tetapkan 1 Syawal 1447
Muhadjir: Muhammadiyah Pakai Kalender Hijriah Global 1 Syawal

Muhadjir: Muhammadiyah Pakai Kalender Hijriah Global Tunggal Tetapkan 1 Syawal

Muhammadiyah telah mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal dalam penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau hari raya Idul Fitri 2026. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Bisnis, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa metode ini merupakan hasil tajdid atau pembaruan dalam sistem penanggalan Islam yang kini mulai diterima secara luas.

Alasan Penggunaan Kalender Global

Dalam keterangannya usai Salat Id di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat, pada Jumat (20/3/2026), Muhadjir menyatakan bahwa untuk tahun ini, organisasi tersebut telah beralih ke kajian pembaruan tersebut. "Untuk tahun ini Muhammadiyah sudah menggunakan tajdid baru, hasil kajian pembaruan yaitu Kalender Hijriah Global Tunggal," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama dari metode ini terletak pada cakupan penentuan hilal. Jika sebelumnya penentuan awal bulan hijriah didasarkan pada wilayah tertentu, kini berlaku secara global. "Sekarang keberadaan hilal itu tidak hanya diukur di wilayah tertentu, tetapi berlaku seluruh dunia," tambah Muhadjir.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dasar Penetapan dari Alaska

Menurut Muhadjir, pada tahun 2026, hilal awal Syawal teramati muncul di wilayah Alaska. Dengan pendekatan global ini, kemunculan tersebut menjadi dasar penetapan awal bulan hijriah untuk seluruh dunia. "Kebetulan tahun ini tanggal satu hilal itu muncul di Alaska. Ketika tanggal satu muncul di Alaska, maka untuk seluruh dunia berlaku itu," jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa sistem Kalender Hijriah Global Tunggal ini telah diratifikasi oleh lebih dari 10 negara, menunjukkan upaya menuju penyatuan kalender Islam secara internasional.

Seruan untuk Persatuan Umat

Muhadjir menegaskan bahwa perbedaan metode penentuan Idulfitri seharusnya tidak menjadi polemik di masyarakat. Menurutnya, setiap pihak memiliki dasar dan argumentasi yang kuat. "Ini soal perbedaan metodologi yang tidak perlu dipertajam. Masing-masing sudah punya argumen yang sama-sama kuat," katanya.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan hari raya tidak dikaitkan dengan isu ketaatan kepada pemerintah. Muhadjir menegaskan bahwa baik yang merayakan Idul Fitri lebih dulu maupun yang mengikuti penetapan pemerintah tetap sama-sama taat. "Jangan diinterpretasikan seolah-olah yang tidak sama itu tidak taat. Ini bukan soal itu," tegasnya.

Muhadjir berharap momentum Idul Fitri tetap menjadi ajang mempererat persatuan dan silaturahmi umat Islam, meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan hari raya. "Mudah-mudahan dengan begitu maka kehidupan kita ke depan bisa semakin lebih baik, baik kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara ini," imbuhnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga