Menteri dan Pimpinan Ormas Islam Hadiri Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara
Presiden Prabowo Subianto menggelar kegiatan peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Acara ini dihadiri oleh sejumlah menteri kabinet serta pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, menandai momentum spiritual di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Kedatangan Tamu Undangan di Kompleks Istana
Pantauan langsung menunjukkan bahwa para tamu undangan mulai berdatangan di Kompleks Istana Kepresidenan sekitar pukul 19.00 WIB. Di antara yang hadir adalah Menteri Agama Nazaruddin Umar, Menko Polkam Djamari Chaniago, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha, Menko Hukum dan Imipas Yusril Ihza Mahendra, serta Menko PM Muhaimin Iskandar. Selain itu, hadir pula Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadiki, Menko Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, dan Menkomdigi Meutya Hafid.
Tokoh-tokoh lain yang terlihat termasuk Ketua KPK Setyo Budiyanto, Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamuddin, serta ulama terkemuka Quraish Shihab dan Alwi Shihab. Kehadiran mereka memperkuat nuansa kebersamaan dalam acara kenegaraan ini.
Tema dan Pesan Spiritual Nuzulul Quran
Menteri Agama Nazaruddin Umar menjelaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran tahun ini mengangkat tema "Al-Qur'an, Amanah Ekologis, dan Jalan Perdamaian Dunia". Tema ini dipilih untuk menegaskan relevansi pesan Al-Qur'an dalam menjawab tantangan global, termasuk isu lingkungan dan perdamaian.
"Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan alam dan sesama. Karena itu, pesan amanah ekologis dan perdamaian dunia menjadi sangat penting kita tekankan," kata Nazaruddin dalam keterangannya.
Menurutnya, nilai-nilai dalam Al-Quran memberikan panduan moral untuk menjaga keseimbangan alam dan membangun harmoni sosial di masyarakat global. "Kita ingin menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengajarkan tanggung jawab ekologis dan semangat perdamaian. Ini menjadi pesan penting bahwa agama hadir sebagai solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan," lanjutnya.
Momentum Kebersamaan Spiritual Bangsa
Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menyatakan bahwa kegiatan Nuzulul Quran ini merupakan momentum untuk memperingati turunnya kitab suci Al-Quran. Ia berharap acara di sepuluh malam terakhir Ramadan ini dapat mewujudkan kebersamaan spiritual antarseluruh elemen bangsa.
"Kita diundang untuk mengikuti Nuzulul Quran sebagai momentum kenegaraan untuk memperingati turunnya wahyu Alquran di bulan suci yang penuh keberkahan dan penuh hidayah ini," ujarnya. "10 hari terakhir kita gunakan betul untuk menyambungkan kebersamaan spiritual bangsa lewat Nuzulul Quran," tambahnya.
Nazaruddin juga menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa pesan Al-Qur'an harus diwujudkan dalam tindakan nyata. "Peringatan ini merupakan momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa nilai-nilai Al-Quran harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata—merawat bumi, membangun solidaritas, dan menghadirkan kedamaian," tegasnya.
Acara ini berlangsung dalam suasana khidmat, mencerminkan komitmen bersama dalam menginternalisasi ajaran agama untuk kebaikan bangsa dan dunia.
