HNW Dorong Diplomasi Haji 1447 H sebagai Momentum Perdamaian di Timur Tengah
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendorong agar penyelenggaraan ibadah haji 1447 H dijadikan momentum strategis untuk mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah. Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini meminta pemerintah, termasuk Kementerian Haji dan Umrah, untuk aktif berdiplomasi dengan berbagai pihak yang terlibat konflik di wilayah tersebut.
Desakan Diplomasi Aktif dengan Negara-Negara Kunci
Dalam keterangannya pada Kamis (12/3/2026), HNW menekankan pentingnya pemerintah Indonesia memanfaatkan kesempatan penyelenggaraan haji untuk mendorong penghentian konflik di Timur Tengah. "Pemerintah bisa menjadikan ini sebagai sarana diplomasi hadirkan perdamaian, hentikan perang, yang semoga dengan berkahnya haji, berhentinya perang dan hadirnya perdamaian yang bersifat permanen," ujarnya.
Anggota Komisi VIII DPR RI itu meminta agar diplomasi dilakukan dengan Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Tujuannya adalah mendorong pihak-pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan menghormati pelaksanaan ibadah haji yang suci.
Kepentingan Indonesia sebagai Pengirim Jamaah Terbanyak
Menurut HNW, langkah diplomasi tersebut sangat penting mengingat Indonesia sebagai pengirim jamaah haji terbanyak di dunia, dengan kuota mencapai 221 ribu orang pada tahun ini. "Indonesia sangat berkepentingan terhadap kelancaran haji," tegasnya.
Hal tersebut disampaikannya saat Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Haji dan Umrah RI di kompleks parlemen pada Rabu (11/3). HNW menekankan bahwa diplomasi haji diperlukan agar penyelenggaraan haji 1447 H/2026 berlangsung lancar, aman, dan nyaman tanpa terganggu oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Peringatan untuk Tidak Terburu-Buru Membatalkan Haji
Politikus PKS itu juga mengingatkan agar Kementerian Haji dan Umrah tidak terburu-buru mengutamakan wacana pembatalan penyelenggaraan haji 1447 H. Ia menilai hingga saat ini Arab Saudi sebagai tuan rumah masih melanjutkan persiapan ibadah haji dengan serius.
Bahkan pada 4 Maret 2026, pemerintah Arab Saudi telah membuka registrasi bagi warga domestik yang akan melaksanakan ibadah haji. Persiapan serupa juga dilakukan Pakistan sebagai salah satu negara dengan jumlah jemaah haji terbesar ke Mekah.
Persiapan Skenario Darurat dan Apresiasi Kemajuan Persiapan
Meski demikian, HNW memahami perlunya skenario darurat jika konflik di Timur Tengah meningkat. Salah satu opsi yang diusulkan adalah mempersingkat masa tinggal jemaah haji di Arab Saudi apabila eskalasi konflik meningkat setelah puncak pelaksanaan haji.
Ia mencontohkan situasi tahun lalu ketika perang Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran terjadi pada 17 Dzulhijjah 1446 H, beberapa hari setelah jemaah selesai menunaikan ibadah haji.
Di sisi lain, HNW mengapresiasi berbagai persiapan penyelenggaraan haji di dalam negeri yang dinilai berjalan cukup baik. Beberapa pencapaian yang disebutkan meliputi:
- Proses pengurusan visa jemaah telah mencapai 100 persen dengan penerbitan 198.410 visa atau sekitar 97,58 persen
- Layanan akomodasi telah dibayarkan 100 persen
- Layanan konsumsi lebih dari 90 persen
- Pembayaran tahap pertama layanan penerbangan mencapai 35 persen
Dorongan untuk Perbaikan Layanan dan Persiapan Terbaik
HNW meminta Kementerian Haji dan Umrah melanjutkan progres tersebut serta memastikan komitmen perbaikan layanan dari dua syarikah yang telah ditunjuk. Ia juga menekankan pentingnya memastikan tidak terulangnya berbagai persoalan yang terjadi pada penyelenggaraan haji sebelumnya.
Selain itu, ia mendorong agar kartu Nusuk sebagai identitas utama jemaah selama musim haji dapat dibagikan sejak jemaah berada di embarkasi di Indonesia. "Persiapan haji yang terbaik dan disampaikan positif ke publik dapat menentramkan calon jamaah, banyak di antaranya menunggu lebih dari 20 tahun untuk berangkat," ujarnya.
HNW menegaskan bahwa meski skema kedaruratan perlu disiapkan sebagai antisipasi, prioritas utama adalah memastikan terwujudnya penyelenggaraan haji 1447 H secara aman, damai, dan profesional. "Tentu skema kedaruratan perlu disiapkan sebagai antisipasi, namun prioritas utama dan yang penting dipastikan adalah tetap bisa terwujudnya penyelenggaraan haji 1447 H secara aman, damai dan profesional, sebagai hasil dari diplomasi Haji hadirkan perdamaian," pungkasnya.
