Hangatnya Idul Fitri di Masjid At-Thohir Los Angeles, Perekat Kebersamaan Diaspora Muslim Indonesia
Di tengah dinamika Kota Los Angeles, suasana Hari Raya Idul Fitri menjadi momen istimewa bagi umat Muslim Indonesia di perantauan. Semangat kebersamaan tetap tumbuh dan terasa hangat, salah satunya melalui kehadiran Masjid At-Thohir yang menjadi pusat perayaan dan silaturahmi diaspora.
Pusat Ibadah dan Syiar Islam yang Inklusif
Melalui kolaborasi dengan KJRI serta Indonesia Muslim Foundation, Masjid At-Thohir tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin, menyebarkan pesan damai dan toleransi kepada berbagai kalangan. Masjid ini dibangun atas semangat dakwah dan kepedulian sosial oleh pengusaha nasional Boy Thohir melalui Yayasan Muhammad Thohir. Kehadirannya menjadi simbol kontribusi nyata diaspora Indonesia dalam menghadirkan nilai-nilai Islam yang inklusif di tingkat global.
Momen Kebersamaan di Tanah Rantau
Pada momen Idul Fitri, Masjid At-Thohir menjadi titik temu bagi warga Indonesia. Ratusan hingga ribuan jamaah berkumpul untuk melaksanakan salat Id, saling bermaafan, serta merayakan kebersamaan yang mungkin jarang dirasakan di tengah kesibukan kehidupan luar negeri. Suasana hangat khas Lebaran pun terasa, menghadirkan nuansa kampung halaman di tanah rantau.
Pengurus Masjid At-Thohir Los Angeles, Farhat Ambadar, menjelaskan, "Pada tanggal 15 Februari, kita sudah kedatangan ustad Mohammad Kholilullah, sampai dengan tanggal 22 Februari menjadi imam dan tausiyah beberapa hari di awal bulan Ramadan, bergantian dengan Imam Masjid At-Thohir Imam Honest Ahmad Qashidi. Pada tanggal 14 sampai 20, kita kedatangan ustad Othman Omar Shahab yang menjadi Khotib Idul Fitri dan saudara Randy Yusuf Mason sebagai Imam Salat Idul Fitri."
Kegiatan Ramadan dan Idul Fitri yang Meriah
Berbagai kegiatan turut digelar untuk menyemarakkan Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, mulai dari halalbihalal, santap bersama, hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Lingkungan masjid yang inklusif menjadikannya ruang terbuka bagi siapa saja, sekaligus mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan komunitas lokal.
Farhat menambahkan, "Setiap hari kita mengadakan buka puasa di mesjid sekitar 100 sampai 150 jamaah pada hari Minggu sampai Kamis, pada hari Sabtu dan Minggu mencapai 200 jamaah. Jamaah bukan saja dari Indonesia, tapi banyak dari luar seperti Bangladesh, India, Kazakhstan, Pakistan, Turkistan, France, maupun Latino Muslim."
Bahasa sebagai Jembatan Persatuan
Masjid At-Thohir pun terus menggaungkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih, harmoni, dan kebersamaan. Di tengah perbedaan budaya dan latar belakang, masjid ini hadir sebagai jembatan yang menyatukan, memperkuat ukhuwah, serta memperlihatkan wajah Islam yang damai dan terbuka.
"Ceramah ada dua bahasa setelah salat tarawih 4 rakaat dalam bahasa Inggris 10 menit, dan setelah 8 rakaat dalam bahasa Indonesia," ungkap Farhat. "Selama berbuka puasa di At-Thohir tidak dipungut biaya apapun, semua disediakan dari para jamaah masjid secara bergantian. Pada 10 malam terakhir ada itikaf di masjid. Salat Idul Fitri di lapangan parkir KJRILA."
Simbol Kebersamaan dari Los Angeles untuk Dunia
Dari Los Angeles untuk dunia, Masjid At-Thohir tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan cahaya kebaikan. Terutama di Hari Raya Idul Fitri, masjid ini menjadi pengingat bahwa jarak bukanlah penghalang untuk merayakan makna kebersamaan dan persaudaraan.
Farhat menandaskan, "Setiap hari Minggu kami menyediakan makanan di depan parkir masjid bagi para non muslim pejalan kaki di sekitar masjid, untuk dapat merasakan makanan berbuka puasa sekitar 20 boks. Di awal Ramadan kami mengadakan bingkisan Ramadan ke tetangga sekitar masjid sebanyak 30 bag berupa makanan."
Dengan berbagai inisiatif ini, Masjid At-Thohir Los Angeles membuktikan perannya sebagai perekat diaspora Muslim Indonesia, menciptakan ruang hangat di tengah keragaman budaya global.



