Status Gunung Lewotobi Laki-laki Turun ke Level Waspada Setelah Lima Bulan Tanpa Erupsi
Status Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, secara resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Jumat, 20 Februari 2026. Penurunan ini terjadi setelah gunung api tersebut tidak menunjukkan aktivitas erupsi selama lima bulan berturut-turut, dengan erupsi terakhir tercatat pada September 2025.
Evaluasi Aktivitas Vulkanik Menunjukkan Tren Penurunan
Keputusan penurunan status didasarkan pada hasil evaluasi aktivitas vulkanik yang dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk periode pemantauan 13–19 Februari 2026. Gunung stratovolkano setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut ini mencatat berbagai jenis gempa selama periode tersebut, termasuk lima gempa guguran, 11 gempa hembusan, 114 gempa tremor non-harmonik, satu gempa tornillo, 90 gempa frekuensi rendah, 22 gempa vulkanik dalam, tujuh gempa tektonik lokal, 28 gempa tektonik jauh, serta tiga getaran banjir atau lahar.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro, menyatakan bahwa aktivitas vulkanik gunung menunjukkan tren penurunan yang signifikan. "Parameter kegempaan memperlihatkan tren penurunan secara bertahap dalam satu bulan terakhir," ujarnya. Herman menjelaskan bahwa dari Januari hingga pertengahan Februari 2026, aktivitas kegempaan didominasi oleh tremor non-harmonik dan gempa frekuensi rendah dengan jumlah harian yang fluktuatif.
Analisis Detail Kegempaan dan Implikasinya
Meskipun sempat terjadi peningkatan gempa frekuensi rendah dengan amplitudo tinggi di beberapa stasiun, hal ini tidak diikuti oleh kenaikan gempa vulkanik dalam maupun vulkanik dangkal. Selain itu, tidak ada indikasi inflasi deformasi tubuh gunung. "Dengan kondisi hujan dalam satu minggu terakhir, peningkatan low frequency lebih konsisten dengan respons hidrotermal dangkal akibat infiltrasi air," jelas Herman.
Gempa vulkanik dalam tercatat dalam jumlah rendah dan relatif stabil tanpa menunjukkan tren peningkatan progresif. Sementara itu, gempa vulkanik dangkal tidak teramati selama periode pemantauan. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan dari kedalaman tidak mengalami peningkatan signifikan. Ketiadaan vulkanik dangkal menunjukkan tidak adanya pembukaan rekahan baru atau migrasi magma menuju zona dangkal," paparnya.
Larangan dan Imbauan untuk Masyarakat
Seiring dengan penurunan status, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi. Perlu diingat bahwa saat status Siaga (Level III), radius aman ditetapkan enam kilometer, sedangkan pada Level IV (Awas) mencapai tujuh kilometer.
Selain itu, warga diminta tetap mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung. Wilayah rawan banjir lahar meliputi Desa Nawokote, Hokeng Jaya, Klatanlo, Dulipali, Nobo, dan Nurabelen. Lima desa selain Nurabelen hingga kini masih menempati hunian sementara (Huntara), sementara sebagian warga lainnya mengungsi secara mandiri.
Pengendara juga diimbau berhati-hati saat melintas di wilayah Hokeng Jaya dan Dulipali di ruas Jalan Trans Flores Larantuka–Maumere karena masih terdapat endapan material lahar di badan jalan.
Respons dari Penyintas dan Harapan ke Depan
Salah satu penyintas asal Hokeng Jaya, Krensenius Ladjar, yang kini tinggal di Huntara III, mengaku bersyukur atas penurunan status gunung tersebut. "Semoga Ile (gunung) bisa normal lagi. Terima kasih, Tuhan dan leluhur," tuturnya. Pernyataan ini mencerminkan harapan masyarakat setempat akan kembalinya kondisi normal di wilayah mereka setelah periode ketidakpastian akibat aktivitas vulkanik.
Penurunan status ini menjadi kabar baik bagi warga Flores Timur, namun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat sifat gunung api yang dinamis. Pemantauan terus dilakukan oleh pihak berwenang untuk memastikan keselamatan masyarakat di sekitar kawasan vulkanik.
