Trubus Soedarsono, seorang seniman maestro Indonesia, menghilang tanpa jejak pada tahun 1966 di tengah gejolak politik yang melanda negeri. Kepergiannya bersamaan dengan gelombang penangkapan dan penghilangan paksa terhadap aktivis, seniman, dan mereka yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kisah pilu ini terungkap melalui tangis putri bungsunya, Sri Rahayu, yang hingga kini berusia 60 tahun tak pernah sekalipun bertemu ayahnya.
Kehilangan di Tengah Gejolak Politik
Sri Rahayu lahir pada tahun 1966, tahun yang sama saat ayahnya dibawa pergi oleh aparat keamanan. Ia dibesarkan oleh kerabat jauh dan baru mengetahui silsilah keluarganya setelah puluhan tahun. “Sampai sekarang, saya belum pernah melihat bapak saya,” ujar Sri saat berbincang dengan Liputan6.com. Istrinya dipenjara, dan anak-anaknya hidup terpisah-pisah; beberapa diasuh kerabat di Jakarta, ada pula yang dititipkan di panti asuhan. Mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan tanpa perlindungan.
Pertemuan Sri dengan kakak-kakak kandungnya baru terjadi bertahun-tahun kemudian, biasanya setahun sekali saat perayaan Natal. Dari cerita mereka, Sri perlahan mengenal sosok sang ayah. “Hanya diceritakan oleh kakak-kakak saya itu,” singkatnya.
Seniman Perlawanan dan Pendiri ASRI
Trubus Soedarsono dikenal sebagai seniman perlawanan. Di era perjuangan kemerdekaan, ia menciptakan poster-poster propaganda anti-Belanda yang ikonik, seperti Boeng Ajo Boeng (Bung Ayo Bung) dan Hidoep Atau Mati. Poster-poster ini membuat pemerintah kolonial Belanda gerah, hingga pada 1948 Trubus dipenjara. “Trubus bersama seniman-seniman kala itu dekat dengan Soekarno, dan menjadi bagian dari diplomasi juga, lalu memotivasi para pejuang,” jelas Teguh Paino, pengampu pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo di Yogyakarta.
Setelah kemerdekaan, Trubus turut mendirikan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini menjadi ISI Yogyakarta. Ia juga aktif dalam organisasi Pelukis Rakyat dan bergabung dengan Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra), organisasi seniman underbow PKI. Kiprah politiknya membawanya menjadi anggota DPRD DI Yogyakarta dari PKI, partai yang kemudian dilarang pada masa Orde Baru.
Penghilangan Paksa dan Nasib Tak Jelas
Pada 1966, aparat keamanan mendatangi rumah Trubus, membawanya pergi, dan mengangkut seluruh barang termasuk lukisan dan dokumen. Keluarga berusaha mencari namun tak pernah mendapat kabar. Hingga kini, nasib Trubus tidak diketahui—apakah masih hidup atau sudah meninggal. Sang maestro lenyap di pusaran sejarah politik bangsa.
Pameran di Yogyakarta menampilkan wajah Trubus bersama maestro seniman perlawanan lain seperti Affandi, Dullah, Sudarso, dan Hendra Gunawan. Teguh Paino menekankan, “Para seniman-seniman yang terpajang di depan ini … memang ikut melakukan perlawanan juga saat itu terhadap penjajah.”
Warisan Seni: Patung dan Lukisan Figur Wanita
Trubus tidak hanya pelukis, tetapi juga pematung. Sentuhannya ada pada Tugu Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Patung si Denok di Istana Bogor. Karya-karyanya didominasi figur wanita, seperti penari, serta potret diri. Teguh menjelaskan, “Untuk objek lukisnya sendiri kebanyakan Pak Trubus itu adalah figur wanita selain itu juga portrait diri.” Trubus juga dikenal dengan teknik melukis pastel yang rumit, mencampurkan serbuk warna pigmen menggunakan stik.
Sri Rahayu berharap publik lebih mengenal sosok ayahnya melalui karya seni. “Generasi penerus seni ini bisa mengingat jasa-jasa beliau-beliau yang sudah meninggalkan karya-karya besarnya itu selalu terkenang,” harapnya. Ia merasa bangga karena masih ada yang memanusiakan ayahnya dengan menghidupkan kembali karya-karyanya. “Saya tidak bisa ngomong dengan kata-kata, saya sangat bangga dan berterima kasih,” tutupnya.
Pameran ini menjadi pengingat bahwa di balik tragedi politik, Trubus Soedarsono tetap dikenang sebagai seniman besar yang berjasa bagi dunia seni rupa Indonesia.



