Remaja China Bohongi Orangtua Demi Jadi Relawan Banjir Guangxi
Remaja China Bohongi Orangtua Demi Relawan Banjir

Seorang remaja berusia 18 tahun asal Shanghai, China, nekat membohongi orangtuanya demi menjadi relawan banjir di Guangxi, China barat daya. Wu Yulun, demikian nama remaja tersebut, berpamitan untuk pergi berlibur setelah menyelesaikan ujian Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi nasional China yang sangat ketat. Namun, alih-alih berlibur, ia menggunakan uang sakunya untuk membeli bahan bantuan dan menempuh perjalanan jauh menuju lokasi bencana.

Aksi Relawan Setelah Gaokao

Aksi Wu Yulun ini dilakukan tepat setelah dirinya menyelesaikan Gaokao pada awal bulan ini. Setelah berminggu-minggu belajar keras, ia sebenarnya berencana untuk menikmati liburan kelulusan sekolah. Namun, rencananya berubah drastis setelah melihat seruan bantuan secara online dari kelompok relawan di wilayah otonom Guangxi.

Menurut laporan media setempat, Wu Yulun langsung merespons seruan tersebut. Ia diam-diam membeli tiket kereta dan berangkat ke Guangxi tanpa sepengetahuan orangtuanya. Untuk membiayai perjalanan dan membeli perlengkapan bantuan, ia menggunakan uang saku yang telah dikumpulkannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Perjalanan Panjang Menuju Lokasi Bencana

Perjalanan dari Shanghai ke Guangxi memakan waktu berjam-jam. Sesampainya di lokasi, Wu Yulun bergabung dengan tim relawan yang sudah ada. Ia membantu mendistribusikan bahan makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya kepada para korban banjir. Meskipun masih muda, ia bekerja keras tanpa mengeluh.

"Saya hanya ingin membantu. Melihat penderitaan mereka, saya tidak bisa diam saja," kata Wu Yulun kepada wartawan setempat. Ia mengaku tidak menyesal telah membohongi orangtuanya, meskipun ia tahu hal itu tidak benar.

Reaksi Orangtua dan Publik

Orangtua Wu Yulun baru mengetahui aksi putranya setelah seorang tetangga menunjukkan berita di media sosial. Awalnya mereka marah, namun kemudian bangga dengan semangat kemanusiaan yang ditunjukkan putra mereka. "Kami marah karena dia berbohong, tapi kami juga bangga dia peduli pada sesama," ujar ayah Wu Yulun.

Kisah Wu Yulun pun viral di media sosial China. Banyak warganet memuji keberanian dan kepeduliannya. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai pahlawan muda. Namun, ada pula yang mengingatkan agar tetap berhati-hati dan tidak membahayakan diri sendiri.

Banjir di Guangxi

Wilayah otonom Guangxi memang sering dilanda banjir saat musim hujan. Tahun ini, banjir dilaporkan telah merendam ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Pemerintah setempat telah mengerahkan tim penyelamat, namun bantuan dari relawan sangat dibutuhkan.

Aksi Wu Yulun menjadi contoh nyata bahwa kepedulian sosial tidak mengenal usia. Meski masih remaja, ia rela mengorbankan waktu dan uangnya untuk membantu sesama yang sedang kesulitan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga