Ogoh-Ogoh: Simbol Spiritual Sisi Gelap Manusia Menjelang Nyepi
Ogoh-Ogoh: Simbol Sisi Gelap Manusia Sebelum Nyepi

Ogoh-Ogoh: Simbol Spiritual Sisi Gelap Manusia Menjelang Nyepi

Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai wilayah dengan komunitas Hindu biasanya berubah menjadi lebih hidup. Patung-patung raksasa yang dikenal sebagai ogoh-ogoh diarak keliling jalan, diiringi tabuhan gamelan dan sorak-sorai masyarakat. Bagi orang awam yang menyaksikan dari kejauhan, ogoh-ogoh sering dianggap sekadar seni dan tradisi budaya yang dilestarikan. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar pertunjukan visual.

Pesan Spiritual di Balik Rupa Menyeramkan

Di balik bentuknya yang besar dan menyeramkan, ogoh-ogoh menyimpan pesan spiritual tentang perjalanan manusia dalam menghadapi sisi gelap dirinya sendiri. Kadek Budhi Aryawan, Humas Komunitas Banjar sekaligus pengelola Pura Tri Bhuana Agung di Kota Depok, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh adalah simbol energi negatif yang perlu dibersihkan sebelum memasuki hari hening Nyepi.

"Pada saat Pengrupukan (waktu maghrib menjelang Nyepi) itu adalah saat kita membangun kesadaran kembali bahwa energi negatif perlu dibersihkan sebelum kita berkontemplasi dalam keheningan Nyepi," ujar Kadek Budhi kepada tim Liputan6.com pada Jumat (13/03/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kadek Budhi menegaskan bahwa kehadiran ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan budaya atau hiburan masyarakat. Setiap proses kelahiran ogoh-ogoh menjadi bagian dari rangkaian ritual spiritual umat Hindu dalam menyambut Tahun Baru Saka, yang bertujuan menyeimbangkan kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri, alam, dan kekuatan spiritual yang diyakini ada di sekitarnya.

Makna Kata dan Simbolisasi Energi Negatif

Kata "ogoh" memiliki arti tertentu dalam tradisi tersebut. Ogoh atau ogah berarti goyang bermakna mengganggu. "Jadi, Ogoh-ogoh itu simbol adanya energi negatif yang mengganggu, yang perlu dikendalikan," kata Kadek.

Dalam praktik keagamaan Hindu, simbol-simbol sering digunakan untuk membantu manusia memahami konsep spiritual yang tidak dapat dilihat secara langsung. Dengan keterbatasan indra manusia, maka semua kegiatan agama itu banyak menggunakan simbol-simbol. "Ogoh-ogoh adalah simbol energi negatif yang perlu dibersihkan atau dikendalikan," tegas Kadek.

Energi negatif dalam kehidupan manusia tidak selalu terlihat secara kasat mata. Karena itu, simbolisasi melalui bentuk ogoh-ogoh menjadi cara untuk memvisualisasikan energi tersebut agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Bentuk ogoh-ogoh yang menyeramkan bukan dibuat tanpa alasan. Menurut Kadek, rupa tersebut menggambarkan sifat-sifat buruk yang sering muncul dalam diri manusia, seperti:

  • Keserakahan
  • Kemarahan
  • Kebencian

"Energi negatif yang tidak kasat mata itu divisualkan dalam bentuk manusia dengan rupa jahat atau seram," ujarnya.

Konsep Butha Kala dan Keseimbangan Alam

Filosofi ogoh-ogoh juga berkaitan erat dengan konsep Butha Kala dalam ajaran Hindu. Asal kata Butha adalah perwujudan dan Kala adalah waktu. Butha Kala menggambarkan realitas keberadaan energi dalam kehidupan yang tidak bisa dihindari.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan hukum keseimbangan alam yang dikenal sebagai Rwa Bhineda. Ada hitam-putih, baik-buruk, gelap-terang, positif-negatif. Realitas ini sebagai sebuah hukum yang selalu ada sebagai realitas Butha Kala yang perlu disadari.

Menurut Kadek Budhi, dualisme tersebut menjadi bagian dari keseimbangan alam. Energi positif dan negatif selalu ada berdampingan dalam kehidupan manusia. "Di mana sisi negatif nya yang berdampak merusak perlu dikendalikan," katanya.

Inspirasi dari Tokoh Pewayangan

Dalam beberapa pembuatan ogoh-ogoh, masyarakat juga kerap mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan maupun kisah spiritual yang dikenal luas. Kadek mencontohkan tentang setan yang selalu menghantui manusia.

"Ada yang mengambil simbol tokoh jahat pada cerita-cerita pewayangan, misal tokoh Cupak sebagai simbol keserakahan. Yang mana setiap sifat jahat itu ada simbol tokoh dalam cerita-cerita pewayangan dan kitab-kitab yang disucikan," jelasnya.

Tokoh-tokoh yang dipilih pasti menyimpan makna filosofis yang kuat. Dalam cerita pewayangan, tokoh jahat sering menggambarkan sifat buruk manusia yang harus dikendalikan agar tidak merusak kehidupan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Prosesi dan Akhir Perjalanan Ogoh-Ogoh

Dengan mengarak ogoh-ogoh yang menggambarkan sifat-sifat negatif tersebut, masyarakat diajak untuk menyadari bahwa energi negatif sebenarnya selalu ada dalam kehidupan manusia. Manusia diingatkan untuk mengendalikan energi negatif sebelum memasuki hari hening Nyepi, momen umat Hindu menjalani introspeksi diri selama 24 jam penuh.

Setelah prosesi selesai, ogoh-ogoh yang digunakan dalam upacara biasanya tidak disimpan lama. Usai digunakan upacara, biasanya ogoh-ogoh langsung dibakar. Namun, ada pula yang disimpan sebagai karya seni.

"Ogoh-ogoh khusus untuk pawai dan lomba, ukuran dan biaya besar, terkadang tetap disimpan sebagai benda karya seni," ujar Kadek Budhi.

Inti dari Tradisi Ogoh-Ogoh

Bagi umat Hindu, seluruh rangkaian prosesi ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pengingat tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Melalui simbol ogoh-ogoh, masyarakat diajak untuk:

  1. Menyadari keberadaan sisi gelap dalam diri manusia
  2. Berusaha mengendalikan energi negatif tersebut
  3. Memasuki keheningan Hari Raya Nyepi dengan kesadaran baru

Dalam keheningan Nyepi, manusia diajak untuk kembali menemukan kesadaran baru tentang hidup, hubungan dengan alam, serta tanggung jawab moral terhadap sesama. Ogoh-ogoh, dengan segala bentuk dan maknanya, menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan refleksi diri yang lebih dalam sebelum memasuki momen kontemplasi yang sakral.