Kampung Somang di Lebak Muncul Kembali Saat Kemarau Panjang
Kampung Somang Muncul Kembali di Lebak Saat Kemarau

Kampung Somang di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten, kembali tampak ke permukaan setelah terendam selama bertahun-tahun akibat proyek Bendungan Karian. Kemarau panjang tahun ini membuat air bendungan surut, memperlihatkan sisa-sisa pemukiman yang dulu padat penduduk. Bangunan-bangunan kayu dan bata yang tersisa sebagian besar tidak memiliki atap, dan beberapa dindingnya sudah runtuh.

Lokasi dan Akses Menuju Kampung Somang

Untuk mencapai Kampung Somang, pengunjung harus berjalan ke area belakang Bendungan Karian di kawasan Sajira. Di sana terdapat Dermaga Somang, tempat rakit kayu digunakan sebagai satu-satunya alat penyeberangan. Saat detikcom mendatangi lokasi pada Rabu, 29 Juli 2026, rakit tersebut masih berfungsi melayani warga sekitar yang hendak bepergian ke Rangkasbitung dan sekitarnya. Akses darat terputus karena genangan air, sehingga rakit menjadi moda transportasi vital.

Kondisi Pemukiman yang Pernah Ramai

Kampung Somang dulunya merupakan permukiman padat dengan rumah-rumah yang saling berdempetan. Jarak antar bangunan sangat rapat, mencerminkan kehidupan sosial yang erat. Saat ini, sebagian rumah masih menyisakan bentuk ruangan seperti dapur dan kamar mandi, meskipun dindingnya mulai lapuk. Kawasan ini kini sepi dari aktivitas penghuni; hanya sesekali terlihat warga dari kampung tetangga yang datang mencari ikan atau bernostalgia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Maman, seorang warga setempat yang juga menjaga rakit penyeberangan, kampung ini tidak banyak dikunjungi orang dari luar Kecamatan Sajira. "Rata-rata orang yang ke sini mau mencari ikan, atau mereka yang dulunya warga sini," ujarnya kepada detikcom.

Cerita di Balik Tenggelamnya Kampung Somang

Proyek Bendungan Karian yang dibangun untuk mengairi lahan pertanian dan menyediakan air baku menyebabkan seluruh Kampung Somang beserta fasilitas umumnya terendam. Masjid Al Mujahidin, tempat ibadah utama warga, kini hanya menyisakan menara dan kubah biru yang muncul di atas permukaan air. Maman, yang dulu tinggal di samping masjid tersebut, mengaku merasa sedih saat melihat kampung halamannya kembali muncul meski dalam kondisi rusak.

"Ya suka sedih, lah. Dulu tinggal di situ, main di situ sama tetangga, nyari nafkah bertani dan menggali pasir," kenang Maman. Ia juga menambahkan bahwa kemarau kali ini merupakan pertama kalinya kampungnya muncul secara utuh. Sebelumnya, hanya sebagian kecil bangunan yang terlihat. "Kemarau tiga bulan ini membuat airnya jadi surut," jelas Maman.

Dampak dan Harapan Masa Depan

Fenomena munculnya Kampung Somang menjadi daya tarik tersendiri, meski belum ramai dikunjungi wisatawan. Warga sekitar berharap pemulihan kawasan ini dapat memberikan manfaat, misalnya sebagai objek wisata sejarah atau edukasi tentang dampak proyek infrastruktur. Namun, untuk saat ini, Kampung Somang masih menjadi saksi bisu perubahan lanskap akibat pembangunan bendungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga