Di tengah hiruk pikuk persiapan ibadah haji, sebuah tradisi unik masih terpelihara di Cirebon, Jawa Barat. Tradisi ini dikenal dengan nama Gentong Haji, yaitu meletakkan gentong tanah liat berisi air segar di depan rumah anggota keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi.
Gentong Haji sebagai Penanda dan Sedekah
Di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, tradisi ini masih terlihat jelas. Di depan rumah Slamet, seorang calon jemaah haji, terdapat sebuah kendi atau gentong yang bagian atasnya ditutup dengan kukusan anyaman bambu. Bagi warga sekitar, keberadaan gentong ini bukanlah hal asing. Selama musim haji, pemandangan seperti ini menjadi pemandangan lumrah.
Gentong tersebut berfungsi sebagai penanda bahwa pemilik rumah sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan masih bertahan di sejumlah wilayah Cirebon. Sejak Slamet berangkat haji, gentong berisi air itu sengaja ditempatkan di depan rumahnya.
Air di dalam gentong bukan sekadar hiasan. Siapa pun yang melintas dipersilakan untuk meminumnya, sebagai bentuk sedekah air minum. Menurut Anila, salah satu keluarga Slamet, tradisi ini memiliki makna mendalam. "Konon ceritanya untuk menyejukkan hati, menguatkan tenaga, dan melancarkan orang-orang yang lagi berangkat haji," ujarnya pada Sabtu (9/5), dikutip dari detikJabar.
Air Segar yang Terus Diisi
Air segar di dalam gentong akan terus diisi selama anggota keluarga masih berada di Tanah Suci. Kebiasaan ini dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Cirebon saat melepas keluarga berhaji. "Air itu untuk umum. Bisa diminum siapa saja. Jadi sebagai bentuk sedekah," jelas Anila.
Selain tradisi Gentong Haji, ada pula kebiasaan lain yang masih dilakukan. Setelah salat magrib atau isya, tetangga akan berkumpul untuk mengadakan pengajian bersama, mendoakan jemaah haji yang sedang berada di Tanah Suci. Tradisi ini dimulai sejak keberangkatan jemaah haji. Tetangga, kerabat, dan keluarga duduk bersama membaca doa untuk anggota keluarga yang sedang berada di Tanah Suci. "Biasanya ngaji Yasinan di rumah setiap habis Maghrib," tutur Anila.
Hingga kini, tradisi Gentong Haji masih dijaga oleh warga Cirebon. Tradisi ini menjadi cara warga mendoakan keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji. "Ini sudah menjadi semacam tradisi. Sudah turun-temurun," ucap Anila. Tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan doa bagi para jemaah haji.



