Pegiat seni Kulon Progo mengubah sampah di Sungai Progo menjadi medium untuk menggugah kesadaran warga melalui pameran bertajuk "DAULAT SAMPAH: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo". Pameran ini digelar di Galeri Seni Taman Budaya Kulon Progo sebagai penghormatan kepada dua maestro seniman asal Kulon Progo, Trubus Soedarsono dan Sujarwo.
Mengubah Sampah Menjadi Karya Seni Modern
Pameran ini mengusung tema "100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo" untuk menghidupkan kembali semangat seni kedua maestro yang dikenal sebagai pegiat seni dan aktivis. Teguh Paino, pengampu pameran, mengungkapkan bahwa keresahan terhadap banyaknya sampah yang menumpuk di wilayah Sungai Progo menjadi latar belakang digelarnya pameran ini. "Kami mulanya memiliki keresahan yang sama, karena banyaknya sampah yang menumpuk di wilayah Sungai Progo itu, berbagai jenis, termasuk serpihan kayu-kayu dan batang pohon," ujar Teguh Paino.
Sampah-sampah tersebut, seperti kayu, plastik, dan batang pohon, diolah menjadi karya seni yang menarik dan penuh makna filosofis. Lokasi pameran berada di pojok Timur area Taman Budaya Kulon Progo, dengan pintu masuk yang dihiasi deretan daun kelapa kering dan gantungan kelapa. Di area depan, terdapat wajah-wajah seniman senior seperti Affandi, Hendra Gunawan, Dullah, Sudarso, dan Trubus muda yang terpoles di kanvas kain. Di dinding pagar terpasang kain hitam dan batok kelapa yang menggantung, serta sebuah motor lawas menjadi properti instalasi.
Karya Instalasi dan Lukis yang Penuh Makna
Di dalam ruang pameran, terdapat sejumlah karya instalasi dan lukis. Karya berjudul "Terbangun dari Sampah" karya Andhik Kristiantoro dibuat dari susunan sampah yang dilekatkan dan diberi warna merah muda. Karya "Aluwung Meneng" karya Agus Priyanto menggunakan batang pohon yang menyerupai wajah manusia. Agus Irawan menampilkan instalasi dari ranting, kayu, dan batang pohon menyerupai tokoh pewayangan dengan judul "Samar". Ariswan Adhitama menampilkan "Sepatu Bot Pantofel dengan Seekor Tikus" yang muncul-tenggelam. Gana menghadirkan lukisan dewa yang lahir dari langit dan turun ke laut namun mengalami karma. Jaka SP menampilkan lukisan alam dengan dua burung yang hinggap di tangkai. Teguh Paino sendiri menampilkan instalasi kayu limbah menyerupai wajah bertanduk panjang, sementara Darmadi membuat seni wajah Trubus Soedarsono muda.
67 Seniman Menyulap Limbah Menjadi Karya Bermakna
Sebanyak 67 seniman berpartisipasi dalam pameran ini, menyulap sampah dan limbah menjadi karya yang bermakna. Teguh Paino menekankan bahwa karya-karya ini bukan sekadar limbah, tetapi membawa pesan tentang kondisi dan respons terhadap keadaan yang membutuhkan aksi nyata untuk mengubah kondisi kotor menjadi nilai seni. "Karya-karya ini kan, tidak sekedar limbah saja, tapi bisa ditangkap sebagai pesan terkait kondisi, atau respons akan keadaan yang membutuhkan aksi sebenarnya untuk mengubah kondisi (kotor) ini, menjadi sebuah nilai seni. Sehingga kami tidak hanya aksi di pinggir pantai untuk menumbuhkan kesadaran," jelas Teguh.
Kurator pameran ini adalah Kang Jajang R Kawentar. Pameran ini juga menjadi ajang apresiasi terhadap Trubus Soedarsono dan Sujarwo, dua sosok seniman asal Kulon Progo. Trubus Soedarsono memiliki peran penting di dunia seni rupa Indonesia, sehingga sangat cocok untuk 'dihidupkan' kembali melalui pameran ini. Sebelum pameran, Teguh dan rekan-rekannya telah meminta izin kepada pihak keluarga Trubus. Anak-anak Trubus Soedarsono terharu karena sosok sang ayah kembali diangkat. "Mereka terharu karena merasa Pak Trubus ini hidup kembali," ucap Teguh.



