Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi membuka Festival Liangkobori IV Tahun 2026 di Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, pada Senin, 13 Juli 2026. Festival tahunan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat upaya pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan warisan budaya prasejarah yang ada di kawasan Muna.
Festival sebagai Ajang Promosi dan Edukasi Warisan Budaya
Festival Liangkobori merupakan agenda budaya tahunan yang dirancang untuk memperkenalkan kekayaan warisan budaya Kabupaten Muna melalui berbagai kegiatan. Mulai dari pertunjukan seni tradisi, pameran budaya, permainan tradisional, hingga kuliner lokal. Selain itu, festival ini juga menyajikan berbagai kegiatan edukasi mengenai kawasan prasejarah Liangkobori yang dikenal memiliki nilai arkeologis tinggi.
Fadli Zon memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkobori, para pemangku adat, peneliti, komunitas budaya, dan seluruh masyarakat yang telah berperan aktif dalam menjaga kelestarian kawasan Liangkobori. Menurutnya, festival ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ruang untuk memperkenalkan salah satu tonggak penting sejarah peradaban manusia kepada publik, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Lukisan Cadas Tertua di Dunia Jadi Sorotan
Kehadiran festival ini sejalan dengan publikasi hasil penelitian yang menetapkan lukisan cadas di Gua Metanduno sebagai lukisan tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif. Lukisan tersebut memiliki usia minimum 67.800 tahun, menjadikannya temuan yang sangat signifikan bagi dunia arkeologi dan sejarah peradaban manusia.
Fadli Zon menegaskan bahwa publikasi hasil penelitian Gua Metanduno yang dirilis oleh para peneliti pada Januari 2026 merupakan pencapaian besar bagi Indonesia. Temuan ini memperkuat posisi Nusantara dalam peta sejarah awal peradaban manusia dan membuka peluang bagi penelitian lanjutan mengenai asal-usul manusia, perkembangan seni cadas, dan evolusi kebudayaan di kawasan ini.
“Melalui Festival Liangkobori ini kita membuka kembali salah satu bab penting dalam sejarah manusia. Tidak hanya sejarah Sulawesi atau Indonesia, tetapi juga sejarah dunia,” ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya.
Kolaborasi untuk Pelindungan dan Pelestarian
Menteri Kebudayaan menekankan bahwa temuan spektakuler tersebut harus diikuti dengan upaya pelindungan yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keaslian situs prasejarah. Menurutnya, pelindungan kawasan tidak hanya bertujuan menjaga keaslian situs, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, diplomasi budaya, serta pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
Saat meninjau langsung Gua Metanduno, Fadli Zon kembali menegaskan pentingnya menjaga situs prasejarah tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. “Ini adalah aset budaya, kekayaan budaya yang harus kita jaga. Temuan ini menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun lalu sudah ada kehidupan dan peradaban di kawasan ini. Karena itu, situs ini harus kita amankan, lestarikan, dan preservasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia,” tegasnya.
Percepatan Dokumentasi dan Riset Kolaboratif
Fadli Zon juga mendorong percepatan pendataan seluruh panel lukisan cadas di kawasan Muna. Hal ini dapat dilakukan melalui dokumentasi digital dan penelitian kolaboratif bersama berbagai lembaga. Dengan demikian, setiap temuan dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi dasar untuk memperkuat upaya konservasi serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Kawasan Liangkobori sendiri dikenal sebagai salah satu bentang karst terpenting di Indonesia yang menyimpan ratusan panel lukisan cadas prasejarah. Berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan BRIN, Griffith University Australia, Balai Pelestarian Kebudayaan, dan para peneliti internasional, cap tangan di Gua Metanduno telah ditetapkan sebagai lukisan cadas tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif.
Menuju Warisan Dunia UNESCO
Di akhir sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa pengembangan kawasan Liangkobori harus mengutamakan pelindungan situs, didasarkan pada kajian ilmiah, serta melibatkan masyarakat sebagai penjaga utama warisan budaya. Pemerintah juga akan mendorong percepatan penetapan kawasan sebagai cagar budaya nasional, memperkuat dokumentasi dan riset, serta menyiapkan langkah menuju pencalonan kawasan seni cadas prasejarah Muna sebagai Warisan Dunia UNESCO.
“Liangkobori dan Gua Metanduno harus menjadi bagian dari upaya memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia. Warisan ini adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan kita perkenalkan kepada dunia,” ucap Fadli Zon.
Dukungan Pemerintah Daerah
Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, menyampaikan bahwa Festival Liangkobori merupakan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Menurutnya, kawasan Liangkobori memiliki nilai sejarah yang penting sekaligus berpotensi menjadi penggerak pariwisata berbasis budaya di Sulawesi Tenggara.
“Festival Liangkobori bukan sekadar atraksi budaya, tetapi bentuk penghormatan sekaligus komitmen kita untuk menjaga warisan budaya agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” kata Andi Sumangerukka.
Sementara itu, Bupati Muna, Bachrun, menegaskan upaya Pemerintah Kabupaten Muna dalam mengembangkan kawasan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata budaya yang tetap mengedepankan prinsip konservasi. “Kami berharap Liangkobori dapat berkembang menjadi pusat penelitian, pusat edukasi budaya, sekaligus destinasi wisata budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga kelestarian situsnya,” pungkasnya.



