Seorang pria bernama Kanisius Kanyali Hambarita mengaku memiliki status sebagai ata atau hamba (budak) di Pulau Sumba, terutama di bagian timur. Ia bercerita bahwa sebagian besar orang dalam posisinya menerima status tersebut karena dianggap tidak dapat dihapus.
Kehidupan di Desa Terpencil
Kanisius tinggal di Desa Tenggedu bersama tuannya, Umbu Ana Rara (31). Desa yang dikenal memiliki air terjun berwarna biru kehijauan itu berada di kawasan terpencil dengan akses jalan berbatu, tanpa sinyal telepon seluler, dan masyarakatnya masih banyak memasak menggunakan tungku kayu.
Praktik Perbudakan yang Bertahan
Sistem perbudakan di Pulau Sumba disebut masih terjadi hingga saat ini, terutama di bagian timur pulau tersebut. Informasi ini diungkapkan dalam laporan Kompas.com pada Rabu (22/7/20266). Menurut pengakuan Kanisius, status perbudakan diwariskan secara turun-temurun dan sulit dihapuskan.
Kanisius menjelaskan bahwa banyak orang dalam posisinya menerima status tersebut karena merasa tidak ada jalan keluar. Mereka hidup dalam ketergantungan penuh pada tuan mereka, tanpa akses terhadap pendidikan atau pekerjaan yang layak.
Dampak dan Tantangan
Praktik perbudakan ini menimbulkan dampak serius bagi para hamba, termasuk keterbatasan akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Selain itu, isolasi geografis desa membuat mereka semakin terpinggirkan.
Pemerintah daerah dan organisasi hak asasi manusia diharapkan dapat turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Namun, hingga saat ini, belum ada langkah konkret yang dilaporkan untuk mengakhiri praktik perbudakan di Sumba Timur.



