Media Sosial dan Hedonic Treadmill: Realitas Palsu dan Jerat Konsumerisme
Pada era digital saat ini, media sosial telah berhasil mengonstruksi realitas palsu yang sangat memikat bagi penggunanya. Platform-platform ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga telah berubah menjadi panggung pertunjukan di mana gaya hidup bukan lagi sekadar cara bertahan hidup, melainkan sebuah pertunjukan yang terus dipentaskan.
Transformasi Gaya Hidup Menjadi Panggung Pertunjukan
Di dalam ruang digital tersebut, setiap individu merasa terdorong untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka, sering kali dengan mengabaikan realitas sebenarnya. Perilaku konsumtif yang awalnya mungkin hanya sekadar tren, kini telah mengendap menjadi habitus atau kebiasaan yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kebiasaan ini semakin menguat, ia menjelma menjadi konsumerisme—sebuah ideologi yang menjanjikan pemuasan dahaga akan kepemilikan dan status sosial. Namun, secara paradoks, konsumerisme ini justru membiarkan pelakunya tetap merasa kering, baik secara batin maupun ragawi, karena kepuasan yang ditawarkan sering kali bersifat sementara dan ilusif.
Fenomena Hedonic Treadmill: Metafora yang Mendalam
Fenomena inilah yang oleh para ahli psikologi dan sosiologi disebut sebagai hedonic treadmill. Secara filosofis, treadmill adalah sebuah metafora yang sangat menarik untuk menggambarkan dinamika ini. Sebagai alat olahraga, treadmill mengharuskan penggunanya untuk terus bergerak tanpa pernah benar-benar mencapai tujuan akhir.
Setiap gerakan yang dilakukan di atas alat tersebut selalu ditawarkan dengan janji kebahagiaan, misalnya melalui peningkatan kesehatan raga dan resiliensi mental. Namun, dalam konteks media sosial dan konsumerisme, hedonic treadmill menggambarkan bagaimana individu terus mengejar kepuasan melalui pembelian atau pencapaian baru, tetapi perasaan bahagia itu cepat menghilang, memaksa mereka untuk terus berlari tanpa henti.
Proses ini menciptakan siklus yang tak berujung, di mana kebahagiaan menjadi sesuatu yang sulit dipertahankan. Media sosial, dengan kontennya yang dirancang untuk memicu keinginan dan perbandingan sosial, memperkuat siklus ini, membuat pengguna terjebak dalam pencarian tanpa akhir akan validasi dan kepuasan.
Dampaknya, banyak orang merasa terjebak dalam realitas palsu yang mereka ciptakan sendiri, di mana gaya hidup yang ditampilkan di layar sering kali bertolak belakang dengan kehidupan nyata. Hal ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat mengarah pada masalah finansial dan sosial yang lebih luas, karena tekanan untuk mengikuti tren konsumtif terus meningkat.