Tim Cek Fakta Kompas.com mengidentifikasi sebuah video yang beredar di media sosial yang menampilkan pendakwah Derry Sulaiman seolah-olah menawarkan dana bantuan bagi masyarakat yang kesulitan ekonomi. Setelah dilakukan penelusuran mendalam, video tersebut dipastikan merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan termasuk dalam kategori hoaks.
Klarifikasi Tim Cek Fakta
Video tersebut pertama kali ditemukan di akun Facebook yang mengunggah klaim bahwa Derry Sulaiman memberikan bantuan keuangan. Dalam unggahan itu, masyarakat yang ingin mendapatkan bantuan diminta untuk menghubungi nomor WhatsApp tertentu. Namun, Tim Cek Fakta Kompas.com menemukan bahwa video tersebut tidak asli. Wajah, suara, dan gerakan Derry Sulaiman dalam video adalah hasil sintesis AI yang dikenal sebagai deepfake.
Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan video palsu yang tampak realistis dengan memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin. Dalam kasus ini, pelaku menggunakan footage asli Derry Sulaiman dari ceramah atau konten lain untuk menciptakan narasi palsu. Tidak ada bukti bahwa Derry Sulaiman terlibat langsung dalam tawaran bantuan tersebut.
Modus Penipuan Berkedok Bantuan
Modus ini tidak baru dalam ranah penipuan siber. Pelaku memanfaatkan nama tokoh publik untuk membangun kepercayaan korban. Setelah korban menghubungi nomor WhatsApp yang tertera, biasanya pelaku akan meminta sejumlah biaya administrasi atau data pribadi seperti nomor rekening. Praktik ini berpotensi merugikan secara finansial dan privasi.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap tawaran bantuan yang tidak jelas sumbernya. Pengecekan informasi dapat dilakukan melalui kanal resmi tokoh terkait atau lembaga verifikasi fakta. Tim Cek Fakta Kompas.com mengingatkan bahwa hoaks berbasis AI semakin marak dan membutuhkan kewaspadaan ekstra.
Cara Menghindari Hoaks AI
Untuk mengenali video hasil AI, perhatikan beberapa hal: ketidakwajaran pada gerakan mulut, perubahan pencahayaan yang tidak konsisten, atau suara yang terdengar monoton. Selain itu, pastikan untuk memverifikasi informasi melalui sumber tepercaya. Jangan mudah tergiur dengan tawaran bantuan yang mengatasnamakan figur publik tanpa konfirmasi.
Jika menerima pesan serupa, sebaiknya laporkan ke platform media sosial dan otoritas terkait seperti Kementerian Komunikasi dan Digital. Kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi AI tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga risiko penyalahgunaan. Edukasi literasi digital menjadi kunci utama dalam melawan penyebaran hoaks.



