Uni Eropa Bangun Tujuh Pabrik AI Raksasa dengan Dana Rp621 Triliun
Uni Eropa Akan Bangun 7 Pabrik AI Raksasa Rp621 Triliun

Tujuh fasilitas komputasi kecerdasan buatan (AI) berskala raksasa akan dibangun di Uni Eropa (UE) menyusul pengumuman panggilan tender oleh Komisi Eropa pada Kamis, 30 Juli. Tender itu bertujuan menghimpun dana lebih dari €30 miliar, atau sekitar Rp621 triliun, dari kombinasi pendanaan negara dan swasta. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kemandirian komputasi UE di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Dari total dana tersebut, €10 miliar akan berasal dari UE dan negara-negara anggotanya, sementara €20 miliar lainnya diharapkan datang dari investor swasta. Penggalangan dan distribusi dana akan dilakukan oleh European High Performance Computing Joint Undertaking (EuroHPC JU), lembaga yang diluncurkan pada 2020 untuk mengembangkan ekosistem superkomputer kelas dunia dengan menggabungkan sumber daya UE, negara-negara Eropa, dan mitra swasta. Konsorsium dan badan usaha khusus (SPV) yang terdiri dari penyedia teknologi dan layanan cloud, entitas publik, serta investor semuanya dipersilakan mengajukan pendanaan.

Produsen Chip AMD, Nvidia, dan Qualcomm Ikut Mendukung

Fasilitas yang direncanakan akan memproduksi prosesor AI mutakhir, perangkat lunak, dan tumpukan teknologi cloud, konektivitas berkecepatan tinggi, serta pusat data hemat energi. Menurut Komisi Eropa, produsen chip AMD, Nvidia, dan Qualcomm telah menandatangani surat pernyataan niat untuk memasok chip kepada kelompok yang terlibat dalam proyek tersebut. Skema ini diharapkan memperluas kapasitas komputasi AI Eropa dan memberikan akses infrastruktur kepada perusahaan rintisan, perusahaan berkembang, usaha kecil dan menengah, industri, akademisi, dan otoritas publik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Kedaulatan Teknologi, Keamanan, dan Demokrasi, Henna Virkkunen, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak sejarah. 'Akses ke skala daya komputasi di dalam gigafactory AI adalah kebutuhan strategis bagi Eropa seiring percepatan pengembangan AI,' ujarnya dalam pernyataan resmi.

UE Masih Bergantung pada AS dan China

Saat ini UE mengoperasikan 19 pusat data yang tersebar antara Spanyol dan Finlandia. Namun, blok tersebut tetap sangat bergantung pada aktor asing untuk penyediaan teknologi. Kondisi ini membuat UE rentan terhadap pengaruh eksternal. Presiden AS Donald Trump, misalnya, telah memperjelas niatnya memanfaatkan kekuatan ekonomi Amerika untuk memengaruhi UE dan negara anggotanya. Sementara itu, China juga membatasi pasokan mineral yang penting bagi sektor ini.

UE berharap dapat melipatgandakan kapasitas pusat data dalam lima hingga tujuh tahun ke depan agar bisa mandiri. Akan tetapi, ada tantangan besar dalam bersaing dengan AS dan China, terutama dari sisi harga energi yang jauh lebih murah di kedua negara tersebut. Laporan Komisi Eropa yang disampaikan kepada Parlemen UE menggambarkan prospek suram jika situasi dibiarkan. 'Bisnis dan otoritas publik Eropa akan terus bergantung pada penyedia AI dari AS dan merugikan penyedia layanan Eropa yang berjuang untuk bekerja di garis depan,' tulis laporan itu.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada penyedia layanan komputasi cloud dan AI skala besar, khususnya untuk kasus penggunaan yang sangat penting, akan terus mengekspos data ke akses negara ketiga. Hal ini membawa risiko terhadap kesinambungan layanan dan membahayakan otonomi operasional.

Kekhawatiran Warga dan Dampak Lingkungan

Para pemimpin UE telah membunyikan alarm atas ketertinggalan blok itu di bidang AI. Namun, sejumlah warga masih ragu terhadap teknologi tersebut karena berbagai alasan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Komisi berupaya meredakan kekhawatiran dengan berjanji bahwa teknologi baru ini akan dikembangkan dan dioperasikan sesuai standar UE tentang perlindungan data, keselamatan, keamanan, dan etika, merujuk pada Undang-Undang Layanan Digital dan Undang-Undang Pasar Digital.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Di luar kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan secara massal akibat AI, pembangunan fasilitas teknologi besar menghadapi reaksi negatif global karena isu lingkungan. Konsumsi air dan listrik yang sangat besar serta polusi suara menjadi perhatian utama. Komisi Eropa mengatakan akan menerima penawaran untuk proyek-proyek baru hingga 12 November, dan mulai mendistribusikan dana pada awal 2027 sehingga pembangunan dapat dimulai pada tahun yang sama.