Jakarta – Masyarakat Indonesia dikenal gemar mengonsumsi camilan. Kebiasaan ngemil telah menjadi bagian dari keseharian lintas generasi, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Meskipun budaya ngemil tidak banyak berubah, selera konsumen terhadap camilan terus mengalami pergeseran dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan gaya hidup dan tren media sosial menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan camilan masyarakat.
Pengaruh Media Sosial dan Generasi TikTok
Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, mengungkapkan bahwa kehadiran media sosial seperti TikTok telah mengubah preferensi camilan secara signifikan. "Apalagi dulu enggak ada TikTok, sekarang sudah ada generasi TikTok. Pasti tentunya berubah sekali gitu ya, kebutuhan sama tren-trennya juga berubah," tuturnya dalam wawancara media eksklusif 25 tahun Gery di Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).
Perilaku Belanja Konsumen FMCG
Perubahan selera ini juga tercermin dalam perilaku belanja masyarakat. Berdasarkan data NIQ Indonesia Mid-Year Consumer Outlook Guide 2025, sebanyak 50,1 persen konsumen fast-moving consumer goods (FMCG) membeli lebih dari dua kategori camilan. Angka ini menunjukkan bahwa konsumen cenderung mencari variasi dalam pilihan camilan mereka, tidak lagi terpaku pada satu jenis saja.
Tren camilan di Indonesia terus berkembang seiring dengan pengaruh global dan lokal. Beberapa tren yang menonjol antara lain demam matcha, ube, dan varian rasa lainnya yang viral di media sosial. Hal ini mendorong produsen camilan untuk terus berinovasi dan menghadirkan produk-produk baru yang sesuai dengan selera konsumen masa kini.
Dampak pada Industri Camilan
Pergeseran preferensi ini berdampak langsung pada strategi pemasaran dan pengembangan produk perusahaan camilan. Garudafood, misalnya, melalui merek Gery yang telah berusia 25 tahun, terus beradaptasi dengan tren terkini. Niken Esti menambahkan bahwa perusahaan selalu memantau perubahan perilaku konsumen dan memanfaatkan data untuk menciptakan produk yang relevan.
"Kami melihat bahwa konsumen sekarang lebih eksploratif dan terbuka terhadap rasa-rasa baru. Media sosial menjadi sumber inspirasi utama bagi mereka," jelas Niken.
Prospek ke Depan
Ke depan, industri camilan di Indonesia diperkirakan akan semakin dinamis. Dengan penetrasi internet dan media sosial yang terus meningkat, tren camilan akan semakin cepat berubah. Produsen dituntut untuk gesit dalam merespons selera pasar yang terus bergeser. Inovasi rasa, kemasan, dan strategi pemasaran digital menjadi kunci untuk memenangkan hati konsumen.



