Trump Kaitkan Kesepakatan Nuklir Saudi dengan Pengakuan Israel
Trump Kaitkan Kesepakatan Nuklir Saudi dengan Pengakuan Israel

Trump Beri Syarat Baru yang Mengejutkan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba mengumumkan bahwa kesepakatan nuklir sipil dengan Arab Saudi hanya akan disetujui jika Riyadh bergabung dengan Perjanjian Abraham dan mengakui Israel. Syarat ini muncul hanya sehari setelah kesepakatan diumumkan pada Rabu lalu, yang sebelumnya dianggap sebagai kemenangan besar bagi Saudi di tengah perang AS melawan Iran atas program nuklirnya.

Dalam unggahan di jaringan Truth Social miliknya, Trump menulis bahwa kesepakatan itu "akan disetujui, tetapi sepenuhnya bergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Perjanjian Abraham yang sangat dihormati dan sukses." Pernyataan ini kontras dengan isi kesepakatan yang tidak menyebutkan syarat tersebut, dan memicu ketidakpastian tentang masa depan perjanjian senilai miliaran dolar bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

Gedung Putih Tegaskan Sikap Trump

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Trump telah menyampaikan syarat ini kepada pihak Saudi dalam berbagai percakapan sebelumnya. "Presiden selalu menjadi penentu akhir kesepakatan. Dia telah mengatakan jika mereka tidak bergabung dengan Perjanjian Abraham, kesepakatan itu batal," ujar Leavitt kepada wartawan, dilansir AFP pada Jumat (24/7/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Leavitt menambahkan bahwa pemerintah AS akan terus terlibat dalam pembicaraan dengan Saudi, namun ia tidak mengetahui adanya panggilan telepon antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah pengumuman kesepakatan tersebut. Hingga saat ini, belum ada reaksi resmi dari Riyadh.

Respons Israel dan Kekhawatiran Pengamat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut positif pernyataan Trump, menyebut pengakuan oleh Arab Saudi sebagai "lompatan bersejarah" untuk perdamaian di Timur Tengah. Namun, pengamat menilai syarat ini dapat menggagalkan kesepakatan. H.A. Hellyer dari Royal United Services Institute (RUSI) mengatakan, "Jika Washington mencoba memaksakan normalisasi pada Riyadh, kemungkinan besar tidak akan berhasil dengan baik." Ia meragukan Arab Saudi akan berbalik 180 derajat dari kebijakan yang telah dipegang selama puluhan tahun.

Para kritikus juga memperingatkan bahwa kesepakatan nuklir ini dapat memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan yang sudah porak-poranda akibat perang. Arab Saudi, seperti Iran, telah lama menegaskan haknya atas program nuklir sipil. Tahun lalu, Riyadh menandatangani pakta pertahanan dengan Pakistan yang memiliki senjata nuklir.

Ketentuan Kontroversial dalam Kesepakatan

Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa salah satu ketentuan dalam kesepakatan nuklir AS-Saudi memungkinkan perusahaan AS membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi. Kesepakatan ini akan diajukan ke Kongres AS untuk ditinjau, dan para anggota parlemen dari kedua partai serta pejabat Israel telah menyuarakan penolakan karena khawatir Saudi dapat mengubah program sipilnya untuk mengembangkan senjata nuklir.

Dengan syarat baru Trump, masa depan kesepakatan menjadi tidak pasti. Jika Riyadh menolak bergabung dengan Perjanjian Abraham, kesepakatan nuklir yang telah diumumkan bisa batal, mengancam keuntungan ekonomi bagi AS dan stabilitas kawasan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga