Kemendikdasmen Ungkap Dana PIP Siswa SD di NTT yang Bunuh Diri Tak Pernah Diambil
Dana PIP Siswa SD di NTT yang Bunuh Diri Tak Pernah Diambil

Kemendikdasmen Ungkap Dana PIP Siswa SD di NTT yang Bunuh Diri Tak Pernah Diambil

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kasus bunuh diri seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa tersebut dilaporkan mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pena, padahal sebenarnya telah terdaftar sebagai penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Dana Sudah Cair Tapi Tidak Diambil

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa masalahnya bukan pada pencairan dana PIP, melainkan pada pengambilan dana tersebut oleh siswa. "Bukan tidak cair (PIP-nya), tapi tidak diambil," tegas Suharti dalam keterangan pers di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, pada Senin (9 Februari 2026).

Menurut penjelasan resmi dari kementerian, rekening PIP milik siswa tersebut telah diaktivasi pada September 2025. Selanjutnya, pada November 2025, dana bantuan PIP sepenuhnya telah ditransfer ke rekening yang dimaksud. Namun, hingga terjadi tragedi memilukan tersebut, dana itu tetap tidak tersentuh dan masih berada dalam rekening.

Proses Administrasi yang Telah Berjalan

Pernyataan resmi Kemendikdasmen ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai kronologi administratif bantuan PIP untuk siswa tersebut:

  • Siswa telah terdaftar dalam database penerima PIP sesuai dengan prosedur yang berlaku
  • Proses aktivasi rekening berhasil diselesaikan pada bulan September 2025
  • Transfer dana bantuan telah dilakukan ke rekening siswa pada November 2025
  • Seluruh proses administrasi telah berjalan sesuai dengan ketentuan program

"Ini menunjukkan bahwa sistem pendataan dan penyaluran PIP secara teknis telah berfungsi dengan baik," tambah Suharti dalam penjelasannya. Namun, ia mengakui bahwa masih terdapat tantangan dalam memastikan dana bantuan benar-benar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh penerima yang membutuhkan.

Tragedi yang Menyentuh Hati Publik

Kasus bunuh diri siswa SD di Ngada, NTT ini telah menyita perhatian publik nasional. Tragedi ini terjadi karena alasan yang sangat sederhana namun menyentuh hati banyak orang - ketidakmampuan membeli alat tulis dasar seperti pena. Ironisnya, siswa tersebut sebenarnya memiliki hak atas bantuan keuangan melalui PIP yang seharusnya dapat meringankan beban ekonomi keluarganya.

Kejadian ini mengangkat pertanyaan penting tentang efektivitas sosialisasi program bantuan pendidikan serta mekanisme pendampingan bagi penerima manfaat, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti Ngada, NTT. Meskipun dana telah tersedia secara administratif, akses fisik dan pengetahuan tentang cara mengakses dana tersebut ternyata menjadi kendala yang berujung pada tragedi kemanusiaan ini.