Ketegangan AS-Iran Meningkat: Pesawat Pengintai P-8A Poseidon Patroli Dekat Perairan Iran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dengan terdeteksinya pesawat pengintai maritim P-8A Poseidon milik Angkatan Laut AS yang beroperasi di dekat wilayah Iran. Pesawat tersebut terpantau melakukan patroli bolak-balik di kawasan maritim antara Bahrain dan Uni Emirat Arab, yang terletak tepat di sebelah selatan daratan Iran, menurut data dari open source intelligence Flightradar23.
Pengerahan Militer AS di Timur Tengah
Keberadaan pesawat pengintai ini terjadi bersamaan dengan pengerahan aset militer besar-besaran Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari lalu menyebutkan bahwa "armada besar" dengan kapal-kapal "sangat besar, sangat kuat" sedang berlayar menuju Iran, meskipun dia berharap tidak perlu menggunakan kekuatan militer tersebut.
AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal penghancur rudal — USS Frank E Petersen Jr, USS Michael Murphy, dan USS Spruance — ke Laut Arab pada akhir Januari saat ketegangan dengan Iran meningkat. Dua dari kapal perang tersebut terdeteksi berlayar di dekat Selat Hormuz, sementara satu lainnya berada di Laut Merah.
Respons Iran dan Patroli Intelijen
Merespons pengerahan militer AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu (8/2) mengakui bahwa Amerika sedang membangun kekuatan armada militer di kawasan tersebut, namun dengan tegas menyatakan: "Pengerahan militer mereka di kawasan itu tidak membuat kami takut."
Patroli pesawat pengintai maritim seperti P-8A Poseidon menunjukkan persiapan misi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR), yang biasanya terjadi sebelum operasi militer dilancarkan. P-8A Poseidon merupakan pesawat patroli dan pengintaian maritim multi-misi yang mampu melakukan peperangan antikapal selam jarak jauh, peperangan antipermukaan, dan ISR.
Tidak hanya P-8A Poseidon, sebuah pesawat KC-135 Stratotanker yang berfungsi sebagai pengisi bahan bakar di udara juga terdeteksi terbang sebentar di dekat Iran, dengan pergerakan yang dinilai tidak biasa oleh pengamat militer.
Pedoman Baru untuk Selat Hormuz
Terdeteksinya pesawat pengintai ini hampir bersamaan dengan langkah otoritas AS merilis pedoman baru pada Senin (9/2) untuk kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk pasokan minyak Timur Tengah.
Dalam pedoman barunya, Otoritas Maritim pada Departemen Transportasi AS menyarankan kapal-kapal komersial berbendera AS untuk:
- Berlayar sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran
- Secara verbal menolak permintaan izin pasukan Iran untuk naik ke kapal, jika diminta
- Mempertahankan keselamatan navigasi sebagai prioritas utama
"Disarankan agar kapal-kapal komersial berbendera AS yang melintasi perairan ini tetap sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran, tanpa membahayakan keselamatan navigasi," demikian bunyi pedoman terbaru AS tersebut.
Analisis Situasi Keamanan
Data dari OSINT menunjukkan upaya militer AS untuk memantau Teluk Persia, yang terletak di sebelah selatan Iran. Meskipun sebagian besar platform militer AS berada di daratan, patroli udara ini mengindikasikan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas maritim di kawasan strategis tersebut.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir, dengan kedua pihak saling menunjukkan kekuatan militer sambil tetap membuka ruang diplomasi. Iran sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk menempuh jalur diplomasi, namun tetap siap berperang jika diperlukan.