Ulah pria berinisial MY (34), pelaku teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, berdampak besar terhadap keluarganya sendiri. Anak dan istri pelaku kini diungsikan dan anaknya tidak lagi bersekolah di SDN tersebut.
Anak dan Istri Diungsikan Pasca Teror
Ketua RT setempat, Anton Sianipar, menyatakan bahwa anak dan istri MY sudah tidak tinggal lagi di lingkungan RT 03 RW 04. Mereka diungsikan oleh pihak keluarga ke rumah orang tua dari pihak perempuan. Keputusan ini diambil untuk menghindari trauma yang mungkin timbul dari reaksi warga sekitar.
"Anak pelaku dan istrinya saat ini sudah tidak tinggal lagi di lingkungan RT 03 RW 04, sudah diungsikan pihak keluarga di rumah orang tua dari pihak perempuan," kata Anton dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).
Anton menambahkan bahwa anak pelaku sudah tidak bersekolah lagi di SDN Srengseng Sawah. Hingga saat ini, mereka belum mendapat pendampingan dari pihak kepolisian atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Motif Pelaku: Tersinggung Soal Seragam
Polisi menangkap MY pada Senin (13/7), tak lama setelah teror bom terungkap. Dalam pemeriksaan, MY mengaku mengirim ancaman bom ke sekolah karena tersinggung dengan perkataan guru mengenai biaya seragam sekolah anak.
"Jadi beberapa hari sebelum kejadian, kan nanya dia masalah seragam. Jawabannya 'Udah, enggak usah beli seragamnya, saya tahu kondisi kamu kan begitu'," ujar Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi, Rabu (15/7).
Teror Bom di Hari Pertama MPLS
Peristiwa teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, terjadi pada Senin (13/7) bertepatan dengan hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Seorang guru menerima pesan pribadi melalui aplikasi WhatsApp yang berisi ancaman akan meledakkan bom di 11 titik.
Polisi telah menetapkan MY sebagai tersangka dan kini ditahan. Pelaku mengaku menyesali perbuatannya yang membuat heboh.



