Prospek Damai AS-Iran Semakin Nyata
Prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menguat setelah serangkaian pernyataan dari kedua pihak menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses negosiasi yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Sejumlah pejabat menyebut kesepakatan yang tengah dibahas kini berada pada tahap paling dekat menuju penyelesaian.
Perkembangan tersebut memunculkan harapan baru bagi berakhirnya konflik yang selama ini memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara yang terlibat dalam proses mediasi juga mulai menyiapkan langkah lanjutan menjelang kemungkinan penandatanganan kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Draf Kesepakatan Damai Disebut Sudah Disepakati
Sinyal kuat menuju perdamaian muncul setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa draf akhir kesepakatan damai antara AS dan Iran telah tercapai. Pakistan yang berperan sebagai mediator disebut tengah bekerja sama dengan kedua pihak untuk menyelesaikan tahapan berikutnya.
"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa teks akhir kesepakatan damai yang telah disepakati telah tercapai dan Pakistan sekarang bekerja sama erat dengan kedua pihak untuk menyelesaikan langkah selanjutnya," tulis Sharif melalui akun X, dilansir AFP, Sabtu (13/6/2026). Ia juga menegaskan optimisme terhadap proses tersebut dengan menyatakan, "Perdamaian tidak pernah sedekat sekarang." Pernyataan itu sejalan dengan sejumlah sinyal positif yang sebelumnya disampaikan pejabat Iran maupun AS terkait kemajuan negosiasi.
Kesepakatan Mencakup Program Nuklir Iran
Dari pihak Washington, Gedung Putih menyebut Iran telah menyetujui kesepakatan berbasis kinerja yang mensyaratkan sejumlah langkah konkret sebelum memperoleh keringanan sanksi. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan material nuklir Iran akan dihancurkan dan dipindahkan, sementara program nuklir negara tersebut akan dibongkar. Selain itu, "tidak ada uang mereka yang akan dilepaskan sampai mereka memenuhi kewajibannya," dilansir Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026).
Pejabat tersebut juga menyebut Selat Hormuz akan tetap terbuka dan Iran akan setuju menghentikan pendanaan terhadap "kelompok teroris". Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima dana apa pun hanya karena menandatangani kesepakatan atau menghadiri pertemuan.
Iran Masih Menjalani Peninjauan Internal
Di Teheran, pemerintah Iran menyatakan sebagian besar isu dalam negosiasi telah mencapai titik temu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut proses saat ini memasuki tahap akhir peninjauan internal. "Saat ini, kesepahaman telah tercapai pada sebagian besar isu, dan kami berada di tahap akhir peninjauan internal," kata Baghaei berbicara di televisi pemerintah, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, sejumlah lembaga terkait di Iran masih melakukan pembahasan untuk menentukan posisi akhir negara tersebut terhadap draf yang telah disusun. Baghaei juga menolak mengonfirmasi berbagai laporan yang beredar mengenai isi kesepakatan dengan alasan detailnya baru akan diumumkan setelah proses finalisasi selesai.
Perang dan Ketegangan Regional Berpotensi Berakhir
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa Memorandum Kesepahaman Islamabad yang tengah disusun akan menjadi dasar pengakhiran konflik secara resmi di berbagai front. "Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," kata Araghchi. Ia menjelaskan bahwa dokumen tersebut juga memuat komitmen untuk tidak memulai perang, tidak mengancam penggunaan kekerasan, serta menghormati kedaulatan masing-masing negara. Menurut Araghchi, untuk pertama kalinya dalam hampir lima dekade AS secara eksplisit menyatakan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.
Setelah nota kesepahaman ditandatangani, kedua pihak akan memasuki fase kedua berupa negosiasi selama sekitar 60 hari untuk membahas isu yang lebih rinci seperti pencabutan sanksi, program nuklir, hingga rekonstruksi Iran.
Selat Hormuz dan Uranium Jadi Isu Penting
Selain penghentian konflik, pengelolaan Selat Hormuz menjadi salah satu poin utama dalam pembahasan. Araghchi mengatakan pengaturan jalur pelayaran strategis tersebut akan mengalami perubahan sesuai kepentingan Iran dan Oman sebagai negara yang memiliki kedaulatan di wilayah tersebut. "Selat Hormuz berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman," ujarnya.
Di sisi lain, isu uranium yang diperkaya masih menjadi salah satu topik sensitif. Iran menegaskan bahwa jika material tersebut harus ditangani, maka metode yang dapat diterima hanya melalui pengenceran di dalam wilayah Iran. "Posisi kami selalu bahwa jika uranium yang diperkaya tingkat tinggi akan ditangani, satu-satunya metode yang dapat diterima adalah pengenceran di dalam Iran," kata Araghchi.
Penandatanganan Disebut Tinggal Menunggu Waktu
Araghchi menyebut penandatanganan nota kesepahaman kemungkinan dapat dilakukan dalam beberapa hari mendatang setelah seluruh tahapan negosiasi selesai. Proses penandatanganan direncanakan dilakukan secara digital dan jarak jauh oleh masing-masing pihak. "Segera setelah tahap akhir negosiasi kami selesai, perjanjian ini akan ditandatangani dan diumumkan," katanya dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah dilansir AFP, Sabtu (13/6/2026).
Sementara itu, Swiss telah menawarkan Jenewa sebagai lokasi penandatanganan resmi apabila kedua negara menyetujuinya. Pemerintah Swiss menyatakan terus menjalin komunikasi erat dengan AS dan Iran untuk mendukung upaya penyelesaian konflik.
Meski optimisme terus menguat, Iran tetap mengingatkan adanya potensi hambatan terhadap proses tersebut. Araghchi menuding pihak-pihak tertentu, terutama Israel, berupaya menggagalkan kesepakatan. Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf juga memperingatkan AS agar mematuhi seluruh komitmen yang nantinya disepakati. "Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada jika, tidak ada tetapi, tidak ada alasan," tegasnya dalam sebuah unggahan di media sosial X, seperti dilansir media Iran, Press TV, Sabtu (13/6/2026).



