Peringatan Keras dari Pemimpin Tertinggi Iran
Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, memberikan respons tegas terhadap klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut dirinya telah meninggal dunia. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/7/2026), Khamenei memperingatkan bahwa AS akan menderita 'pelajaran yang tak terlupakan' akibat pelanggaran perjanjian dan agresi militer.
Pernyataan itu dibacakan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara setelah serangan udara AS-Israel yang menargetkan infrastruktur Iran. Khamenei menuduh pemerintahan Trump berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati, sehingga membuat tanda tangan presiden AS 'sama sekali tidak berharga dan tidak sah'.
Klaim Trump dan Spekulasi Kematian Khamenei
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa para pemimpin Iran telah tewas, termasuk Mojtaba Khamenei. 'Putranya, 90 persen telah tiada,' klaim Trump, merujuk pada pemimpin tertinggi Iran yang merupakan putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Trump juga sempat salah menyebut nama mendiang Ali Khamenei sebagai 'Khomeini', pemimpin revolusi Iran yang wafat pada 1989.
Spekulasi tentang kondisi Khamenei muncul setelah ia tidak terlihat di depan publik selama berbulan-bulan. Ia dilaporkan selamat dari serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan ayahnya, namun sejak itu tidak pernah tampil. Bahkan, ia absen dari pemakaman ayahnya dan baru merilis pernyataan tertulis setelah upacara selesai pada 9 Juli 2026.
Ancaman 'Pelajaran Tak Terlupakan' bagi AS
Dalam pernyataan terbarunya, Khamenei menegaskan bahwa 'bangsa Iran dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan' bagi musuh yang mencoba memicu perang. Ia menyebut AS sebagai 'Setan Besar' yang kebiadabannya merupakan komponen tak terpisahkan dari doktrin Amerika.
Peringatan ini muncul setelah serangan balasan Iran terhadap infrastruktur sipil di Kuwait, yang merupakan negara penampung pasukan AS. Iran juga menyerang pangkalan AS di Yordania, menewaskan dua tentara AS. Sementara itu, AS melanjutkan serangan terhadap fasilitas sipil Iran, termasuk jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air.
Dampak dan Respons Internasional
Konflik yang memanas ini mendorong Kuwait mendesak warganya melakukan penghematan listrik setelah serangan Iran. Masyarakat internasional mengkhawatirkan eskalasi lebih lanjut yang dapat melibatkan negara-negara lain di kawasan. Pernyataan Khamenei yang keras menandakan bahwa Iran tidak akan mundur meskipun menghadapi tekanan militer dari AS dan sekutunya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait pernyataan Khamenei. Namun, analis menilai bahwa retorika kedua pemimpin semakin memperburuk prospek diplomasi dan meningkatkan risiko konflik terbuka.



