Kelompok milisi Irak menawarkan imbalan sebesar US$ 10 juta, atau setara Rp 179,4 miliar, untuk siapa saja yang mampu membunuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Seruan pembunuhan dengan tawaran imbalan itu disebut sebagai 'kutukan' bagi Presiden AS tersebut.
Latar Belakang Tawaran Imbalan
Tawaran tersebut, seperti dilansir Press TV dan Middle East Monitor, Sabtu (18/7/2026), diumumkan oleh Kelompok Perlawanan Islam di Irak, berkaitan dengan pembunuhan dua komandan yang dihormati, termasuk komandan terkemuka Iran, oleh AS beberapa waktu lalu. Kelompok Perlawanan Islam di Irak merupakan komponen kunci dalam Poros Perlawanan, dan terlibat aktif dalam perang antara Iran-AS dengan melancarkan serangan terhadap aset-aset militer AS di kawasan tersebut.
Dalam pengumuman yang dirilis pada Kamis (16/7), Kelompok Perlawanan Islam di Irak yang memayungi berbagai faksi perlawanan tersebut mengatakan bahwa mereka mengalokasikan imbalan US$ 10 juta yang dikumpulkan dari sumbangan para anggota dan pendukung kelompok tersebut.
Isi Tawaran dan Sasaran
Kelompok Perlawanan Islam di Irak mengatakan bahwa tawaran imbalan itu ditujukan bagi 'siapa pun yang membunuh penjahat Trump, atau bagi siapa pun yang memutuskan untuk mengalokasikan atau menyalurkan imbalan tersebut kepada individu, kelompok, entitas, atau institusi tertentu'.
Dikatakan oleh Kelompok Perlawanan Islam di Irak bahwa 'kesombongan kriminal' Trump terkait pembunuhan 'komandan-komandan kemenangan', Mayor Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, menjadi 'tanda paling nyata dari runtuhnya moral pemerintah AS'. Mendiang Jenderal Soleimani merupakan komandan Pasukan Quds Iran, sedangkan Al-Muhandis merupakan wakil komandan Pasukan Mobilisasi Populer (IMF) Irak. Keduanya tewas dalam serangan drone AS di luar Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020, yang diperintahkan langsung oleh Trump.
Pernyataan Kelompok Perlawanan
Pernyataan Kelompok Perlawanan Islam di Irak itu juga menegaskan bahwa 'para penindas tidak akan pernah merasakan kedamaian'. 'Orang-orang yang bebas di seluruh dunia akan terus memburu pembunuh anak-anak dan ilmuwan. Para tiran tidak akan pernah merasakan kedamaian, dan sang penjahat tidak akan menemukan tempat berlindung yang aman dari kemurkaan orang-orang yang terhormat,' tegas kelompok tersebut.
'Pembalasan adalah janji yang mengikat bagi para pejuang, dan darah para syuhada akan tetap menjadi kutukan yang mengguncang takhta orang-orang yang angkuh hingga para agresor dikalahkan dan benteng-benteng tirani runtuh,' imbuh pernyataan kelompok tersebut.
Konteks Lebih Luas
Pengumuman ini muncul di tengah fase baru yang intens dalam perang antara Iran melawan AS dan Israel, yang dimulai pada 28 Februari. Sempat terhenti selama gencatan senjata, pertempuran kembali berkobar menyusul perselisihan mengenai pengaturan atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk energi global.



