Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengakui telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) di Selat Hormuz pada Senin malam, 13 Juli 2026. Serangan ini terjadi di tengah eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa serangan rudal jelajah Iran menewaskan seorang awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya. Enam korban luka merupakan warga negara India, sementara dua lainnya berasal dari Ukraina. UEA mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang "terang-terangan" dan merupakan "pelanggaran serius" terhadap hukum internasional, seraya menegaskan hak penuh untuk merespons dengan segala langkah yang diperlukan.
Identitas Kapal Tanker yang Diserang
UEA mengidentifikasi dua kapal yang menjadi sasaran sebagai kapal tanker minyak mentah Mombasa B dan kapal tanker gas alam cair (LNG) Al Bahiya. Tim BBC Verify menggunakan citra satelit untuk melacak pergerakan kedua kapal tersebut. Ditemukan bahwa Mombasa B tidak menyiarkan lokasi publiknya selama lebih dari 10 hari sebelum serangan. Data MarineTraffic menunjukkan kapal itu berangkat dari terminal minyak Zirku di UEA pada 2 Juli menuju Khor Fakkan. Citra satelit memperlihatkan kapal itu melakukan transfer muatan dari kapal ke kapal dengan kapal tanker He Rong Hai di lepas pantai Fujairah pada 8 Juli.
Menurut perusahaan intelijen maritim TankerTrackers, Mombasa B mengangkut sekitar 1,9 juta barel minyak UEA yang kemudian dipindahkan ke He Rong Hai. Sementara itu, Al Bahiya juga tidak menyiarkan lokasi publiknya selama lebih dari 14 hari. Posisi terakhirnya menurut MarineTraffic berada di lepas pantai India barat, namun analisis TankerTrackers menunjukkan kapal tersebut berada di dekat Ras Laffan di kawasan Teluk pada 22 Juni, mengindikasikan adanya manipulasi data lokasi (spoofing).
Respons Iran dan Eskalasi Militer
IRGC melalui pernyataan di Telegram mengonfirmasi serangan tersebut dengan alasan bahwa kedua kapal tanker mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi, dan berupaya melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau. IRGC memperingatkan bahwa "kerja sama dengan musuh agresor" hanya akan berujung pada penyesalan, kerusakan, dan tertundanya pembukaan kembali jalur pelayaran di selat tersebut, serta berpotensi memicu "krisis energi global".
Sementara itu, militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut. Presiden Donald Trump mengatakan AS menyerang Iran dengan "sangat keras". Serangan AS menargetkan sistem pertahanan udara, radar pesisir, serta lokasi peluncuran rudal dan drone Iran. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, serta fasilitas radar di Oman.
Blokade Laut dan Dampak Ekonomi
Pada Senin, Trump mengumumkan bahwa AS akan kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mengenakan biaya sebesar 20% untuk seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Trump menyatakan langkah tersebut akan mencegah "kapal-kapal Iran maupun pelanggan Iran" masuk atau keluar melalui jalur pelayaran strategis itu, namun semua negara lain tetap akan memiliki akses yang adil dan terbuka. Blokade tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS.
Menteri Luar Negeri Iran menanggapi dengan menyatakan bahwa pihak yang menyediakan jalur pelayaran yang aman seharusnya memperoleh kompensasi, namun menegaskan Iran akan tetap menjadi "PENJAGA" Selat Hormuz. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan tidak ada dasar hukum untuk pungutan semacam itu.
Harga minyak langsung merespons dengan kenaikan signifikan. Minyak mentah Brent menguat 1,9% menjadi US$84,87 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS naik 2% menjadi US$79,75 per barel pada perdagangan Selasa pagi.



