Kisah Iptu Motalip, Polisi Dekat dengan Warga Nduga yang Akrab Disapa 'Pak Salib'
Iptu Motalip, Polisi Dekat Warga Nduga Disapa 'Pak Salib'

Iptu Motalip Litiloly, Kasat Samapta Polres Nduga, dikenal karena pendekatan kekeluargaan yang ia terapkan dalam menjaga keamanan di wilayah Nduga, Papua Pegunungan. Berkat kedekatannya dengan masyarakat setempat, ia akrab dipanggil 'Pak Salib'. Iptu Motalip merupakan salah satu kandidat dalam Hoegeng Awards 2026.

Bertugas Sejak 2012

Iptu Motalip, yang akrab disapa Talip, telah bertugas di Nduga sejak tahun 2012, saat Pospol Kenyam pertama kali dibentuk. Selama masa tugasnya, ia menyaksikan banyak konflik, termasuk perang saudara antarwarga. "Selama saya melaksanakan jabatan di Pospol Nduga, itu banyak konflik yang terjadi, perang saudara," ujar Talip dalam wawancara kandidat Hoegeng Awards 2026.

Saat pertama tiba di Nduga, Talip tidak langsung diterima oleh masyarakat karena ia bukan putra daerah. Ia bercerita tentang pengalamannya saat mendekati seorang tokoh masyarakat. "Ada salah satu tokoh masyarakat, saya curhat ke beliau 'Bapak, izin, adik mau bicara dengan Bapak', saya sampaikan 'Bapak, saya lihat warga di sini saat lihat kita berseragam, kita berpapasan, kita mau kasih sapa, dia lihat kita dari jarak 2 meter, dia sudah tunduk lalu menghindar dari kita'," kata Talip. Tokoh tersebut menjawab, "Adik, minta maaf, Nduga ini masih trauma dengan kasus penyanderaan Mapenduma tahun '96. Hanya alhamdulillah kamu mulai pelan-pelan, dekati masyarakat dengan mendatangi warga-warga, kita sambangi mereka."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mendekatkan Diri dengan Ngopi Bareng

Talip kemudian berupaya mendekatkan diri dengan mengunjungi rumah-rumah warga dan mengajak mereka mampir ke pos polisi untuk minum kopi bersama. "Kita ngopi berang-bareng, kita kasih pemahaman ke mereka bahwa 'kami di sini bukan kita bikin susah masyarakat, kami datang ke sini untuk bantu masyarakat, kalau ada masalah panggil kami'. Akhirnya dari mulut ke mulut masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke pospol," jelasnya.

Wisen Tabuni, Kepala Kampung Pririmpirim, mengungkapkan peran Talip dalam meredam konflik. Ia menceritakan pengalamannya pada tahun 2017 saat terjadi perang antar dua kubu. "Mengenai Bapak Talip dia selama tahun 2012 sampai dengan saat ini, selama dia di sini masalah konflik, saya sendiri sebagai pemimpin perang, itu tahun 2017, itu Pak Talip luar biasa, kami warga dua kubu sampai perang, baku punung, baku panah. Begitu dia masuk itu langsung dia bilang 'Hei, itu tidak boleh', sampai di sini," ucap Wisen. Warga kampung sangat menghargai Talip, bahkan ia sering mendatangi warga di gunung-gunung. "Kami hargai Pak Talip ini, dia turun ke distrik pun pernah masuk, gunung-gunung itu, sampai ke distrik Yigi, Mapenduma," tuturnya.

Berani Masuk ke Tengah Konflik

Iksana Murib, seorang guru di Sekolah Yembe Mileh, pernah menyaksikan langsung Talip turun ke tengah konflik. "Pernah lihat Pak Talip itu, ada musuh dari pihak bawah, jadi mereka perang di dekat Polres. Jadi musuh dari pihak bawah mau serang musuh pihak atas, Pak Talip itu di tengah-tengah, jujur dalam pikiran saya 'orang ngapain di tengah-tengah perang' karena kita ada orang asli Nduga takut," ucapnya.

Pendeta BPDI Pantekosta, Isak Murib, menambahkan bahwa Talip sangat dekat dengan gereja meskipun beragama Islam. Ia mendapat panggilan akrab 'Salib' dari warga. "Kami senang dengan Pak Talip, berapa kali saya lihat dia mau dipindah, tapi saya bilang tidak. Saya bersama dengan teman-teman tujuh denominasi gereja termasuk bapak-bapak dari haji, sama-sama kami tetap pertahankan di Kabupaten Nduga, pindah ke tempat lain? Tidak," tuturnya. "Karena di sini nama Talip itu, kita punya Salib Kristus, sama nama, dari mereka hanya nama tapi dari kami ada artinya," lanjutnya.

Pujian dari Kapolres Nduga

Kapolres Nduga AKBP Alredo Agustinus Rumbiak memuji pendekatan Talip terhadap masyarakat. Menurutnya, tidak ada warga Nduga yang tidak mengenal Talip. "Mereka mengakui 'Talip orang paling kami segani, ko paling baik, tapi jangan ko sakiti masyarakat e'. Orang di atas gunung sana tahu Talip lho, semua tahu Talip, Talip sudah datang ke sana, melayani sampai sana," kata Alredo.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga