Serangan Drone Iran ke Pangkalan Udara AS di Bahrain
Tentara Iran melancarkan serangan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain selama fase ke-11 operasi 'Saegheh'. Serangan balasan ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan antara Teheran dan Washington.
Dilansir Anadolu Agency, Jumat (17/7/2026), dalam sebuah pernyataan resmi, tentara Iran mengumumkan bahwa mereka menargetkan Pangkalan Udara Al-Sakhir, tempat helikopter militer AS dan pesawat pengintai P-8 ditempatkan, menggunakan drone kamikaze Arash.
Alasan dan Tanggapan Iran
Serangan itu disebut sebagai tanggapan langsung terhadap serangan AS yang menargetkan infrastruktur sipil dan warga sipil di Iran. Tentara Iran berjanji akan memberikan tanggapan "cepat dan tegas" terhadap setiap tindakan permusuhan lebih lanjut. Mereka memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan terhadap tekad Iran atau kemampuan militer angkatan bersenjatanya dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan membawa "biaya yang besar."
Dampak di Bahrain
Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Bahrain setelah serangan tersebut. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mendesak warga dan penduduk untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat. Ketegangan regional meningkat sejak Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Upaya Diplomasi dan Eskalasi Terbaru
Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan bulan lalu, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik mereka dan mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng. Namun, ketegangan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir di Selat Hormuz, dengan kedua pihak saling melancarkan serangan. Serangan terbaru AS di bandara, jembatan, dan stasiun kereta api Iran telah menewaskan tiga warga Iran, memicu respons militer Iran.



