Serangan habis-habisan Amerika Serikat (AS) ke Iran mulai dilancarkan pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Rentetan serangan tersebut menghantam puluhan target militer di Iran dan berlangsung selama dua jam, menurut pernyataan resmi Washington. Serangan ini merupakan balasan atas rudal balistik Iran yang dicegat di Yordania sehari sebelumnya.
Trump Bersumpah Balas Dendam
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan ini adalah respons keras terhadap provokasi Iran. "Kita akan menyerang mereka dengan keras. Mereka akan dihajar habis-habisan," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, seperti dilansir AFP. Trump juga menyebut bahwa serangan rudal Iran hanya memberi waktu beberapa menit bagi pasukan AS untuk bereaksi sebelum berhasil mencegat proyektil.
Serangan Udara Gabungan AS-Arab Saudi
Selain serangan langsung ke Iran, AS bersama Arab Saudi juga melancarkan serangan udara terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Serangan itu dikoordinasikan dengan pemerintah Irak, menurut Trump. Otoritas Saudi sebelumnya melaporkan telah mencegat drone yang menargetkan fasilitas minyak di Saudi timur, dan menuding kelompok pro-Iran di Irak sebagai dalangnya.
Korban Jiwa dari Serangan AS
Kantor berita Iran, Fars, melaporkan bahwa serangan AS di Pulau Qeshm, Iran selatan, menewaskan tiga anggota satu keluarga, termasuk seorang anak berusia dua tahun. "Serangan AS terhadap sebuah rumah tinggal di kawasan Chah Tangu, Qeshm, menewaskan tiga anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia 2 tahun," lapor Fars mengutip Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan. Dua anak lainnya dilaporkan terluka.
Ledakan juga terdengar di Provinsi Bushehr, tempat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran berada, menurut penyiar negara IRIB. Media Iran Press TV dan Tasnim melaporkan tiga ledakan di Pulau Qeshm dan area pemukiman terkena rudal, meskipun informasi korban jiwa masih belum lengkap.
Serangan Berlangsung Selama Dua Jam
Pejabat AS yang dihubungi CNN menyebut serangan itu menargetkan militer Iran dan berlangsung sekitar dua jam. Washington menyebutnya sebagai “respons yang kuat” terhadap rudal Iran yang diluncurkan ke arah pasukan AS di Timur Tengah sehari sebelumnya. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Irak untuk melucuti senjata kelompok bersenjata pro-Iran.
Iran Keras Mengutuk Serangan
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras serangan gabungan AS-Arab Saudi di Irak. Teheran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Baghdad dan upaya sengaja Washington dan Israel untuk memperluas perang regional. "Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengutuk keras serangan agresif Amerika Serikat dan Arab Saudi di beberapa wilayah di Irak," ujar kementerian dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (29/7) waktu setempat, seperti dilansir Press TV.
Kementerian Iran menambahkan bahwa serangan itu merupakan "agresi terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan integritas teritorial Irak" dan "pelanggaran mencolok terhadap Pasal 2, Ayat 4 Piagam PBB dan aturan dasar hukum internasional." Teheran memperingatkan bahwa tindakan tersebut "sejalan dengan ambisi Amerika Serikat dan rezim Zionis untuk memperluas cakupan perang dan konflik di kawasan Asia Barat."
Korban di Irak
Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, aliansi bekas kelompok paramiliter yang kini terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak, mengatakan sedikitnya 20 petempur tewas dan 32 lainnya terluka dalam serangan gabungan AS dan Saudi di Irak. PMF menyebut serangan itu sebagai agresi yang tidak beralasan.



