Peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) di kantor DPP PDIP, Menteng 58, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026), diisi dengan pidato dari politikus PDIP sekaligus eks Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto. Dalam kesempatan itu, Andi menyoroti pesan utama yang harus diambil dari insiden berdarah tersebut, yaitu profesionalitas tentara.
Pokok Pesan Kudatuli: Jangan Biarkan Tentara Keluar dari Koridor Profesional
Menurut Andi, peringatan Kudatuli hanya membawa satu pesan inti, yakni agar tentara harus menjalankan tugasnya secara profesional. "Satu saja yang menjadi pesan Kudatuli itu, jangan biarkan lagi tentara keluar dari koridor profesionalnya," ujar Andi di hadapan para kader dan undangan. Dia menegaskan bahwa tentara tidak boleh memasuki wilayah politik yang bukan menjadi kompetensinya. "Tentara harus profesional untuk menjaga wilayah pertahanan dan kedaulatan negara," tambahnya.
Andi juga mengingatkan bahwa pajak yang dibayarkan masyarakat untuk menggaji para perwira dan prajurit TNI harus dimanfaatkan agar mereka bertugas sesuai koridornya yang diatur konstitusi dan peraturan perundang-undangan. "Bukan masuk ke pemerintahan sipil, bukan masuk menjadi dirjen, bukan masuk untuk mengurusi jagung, bukan masuk untuk membuka sawah," kata Andi. "Tentara harus jago terjun payung, nyetir tank, kapal selam," sambung pria yang sebelumnya dikenal sebagai pakar kajian militer dan pertahanan tersebut.
Andi Kutip Pesan Jenderal Sudirman dan Sukarno
Dalam pidatonya, Andi mengutip pesan Panglima pertama Tentara Indonesia, Jenderal Besar Sudirman pada 1950, yaitu 'agar tentara Indonesia tidak terpilah-pilah dan masuk ke dalam kepentingan politik'. Amanat tersebut, kata Andi, juga kembali diulang Presiden pertama RI yang juga tokoh proklamator, Sukarno, saat peringatan hari Kemerdekaan 1953. "Kata-katanya nyaris sama, tidak terkotak-kotak, tidak terpilah-pilah, tidak boleh membawa kepentingan politik tertentu," ujar Andi. Menurutnya, dua tokoh bangsa ini sudah memberi peringatan sejak awal tentang bahaya politisasi militer.
Sejak 1966, Tentara Kehilangan Jati Diri
Andi menilai bahwa masalah Indonesia sejak 1966 hingga ambruk saat Reformasi 1998, adalah karena tentara telah kehilangan jati dirinya, dan masuk ke ranah politik. "Itu yang harus kita cegah saat ini," kata Andi. Peringatan Kudatuli tahun ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang didampingi putra keduanya sekaligus Ketua DPP PDIP, Muhammad Prananda Prabowo. Megawati juga meresmikan Monumen Kudatuli di kantor DPP PDIP sebagai simbol pengingat peristiwa tersebut.
Kudatuli sendiri merupakan peristiwa penyerangan terhadap kantor DPP PDIP pada 27 Juli 1996, yang menandai konflik politik antara pemerintah Orde Baru dan oposisi. Tiga puluh tahun kemudian, pesan tentang profesionalitas tentara kembali digaungkan agar sejarah tidak terulang.



