Mahasiswa Iran Kembali ke Kampus, Terus Serukan Perlawanan Terhadap Rezim Khamenei
Mahasiswa Iran Kembali ke Kampus, Terus Serukan Perlawanan

Mahasiswa Iran Kembali ke Kampus, Terus Serukan Perlawanan Terhadap Rezim Khamenei

Awal semester baru telah dimulai di Iran, namun suasana kampus jauh dari kata tenang. Mahasiswa dan mahasiswi yang kembali ke universitas terus menyerukan suara mereka melawan rezim pimpinan Ayatollah Ali Khamenei dengan penuh keberanian.

Peringatan untuk Korban dan Slogan Anti-Rezim

Sejak Sabtu, 21 Februari lalu, gambar dan video protes mahasiswa telah beredar luas secara daring. Saksi mata dari tujuh universitas di Iran melaporkan bahwa upacara peringatan digelar untuk mengenang para korban yang tewas selama gelombang protes besar-besaran pada bulan Januari.

Meski aksi saat ini lebih kecil skalanya dibanding bulan lalu, semangat perlawanan tetap menyala. Banyak mahasiswa masih setia menampilkan slogan-slogan keras seperti "Matilah Diktator" atau "Matilah Republik Islam". Beberapa bahkan menyerukan kembalinya monarki dengan putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, yang pernah muncul sebagai tokoh terkemuka dalam oposisi yang terpecah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peran Milisi Basij dalam Pengawasan Ketat

Seorang mahasiswa berusia 19 tahun dari Teheran, yang identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan kepada Deutsche Welle bahwa kemarahan di kalangan mahasiswa sudah tak terbendung lagi. Dia ikut serta dalam protes anti-rezim pada Desember lalu, bersama jutaan warga Iran lainnya.

Banyak yang terkejut oleh brutalitas pasukan keamanan, khususnya milisi Basij, kelompok paramiliter di dalam Garda Revolusi yang dikerahkan untuk menindak demonstran sejak 18 Januari. Anggota mahasiswa dari Basij, yang memiliki kantor perwakilan di setiap universitas, turut serta dalam aksi protes, seperti terlihat dalam video bentrokan yang viral.

Kini, anggota Basij ditugaskan memeriksa semua orang yang memasuki area kampus, mencatat kehadiran mahasiswa, dan durasi mereka berada di sana. Kantor berita pro-rezim, Fars, menggambarkan protes kecil ini sebagai insiden terpisah dan menegaskan bahwa korban tewas bukan karena represi keamanan, tetapi karena "teroris" yang menyusupi demonstran.

Tuntutan Pertanggungjawaban dan Keputusasaan Warga

Warga Iran yang diwawancarai Deutsche Welle menyatakan keinginan kuat agar pihak yang menyebabkan kematian demonstran bertanggung jawab. Beberapa bahkan berharap Amerika Serikat turun tangan membunuh tokoh-tokoh tertentu yang terlibat.

Seorang sosiolog dari University of Tehran, yang anonim demi keamanan, menjelaskan, "Ketika masyarakat mulai mengandalkan bantuan asing untuk melawan penindasan, itu mencerminkan keputusasaan." Keputusasaan ini menunjukkan hilangnya harapan bahwa keterlibatan sipil, termasuk demonstrasi besar-besaran atau referendum, dapat mengubah situasi.

Legitimasi kepemimpinan Iran di mata rakyatnya hampir tidak ada lagi, bahkan sebelum protes Desember dan Januari meletus. Respons rezim terhadap gelombang protes tersebut dinilai sebagai yang terkeras sejak Revolusi Islam 1979.

Ketegangan AS-Iran dan Ancaman Perang

Presiden AS, Donald Trump, telah mengancam rezim Iran dengan serangan militer atas penindasan demonstran dan program nuklirnya. Iran membalas dengan peringatan bahwa serangan apa pun akan direspons keras.

Jelang negosiasi Teheran dengan AS di Jenewa pada 26 Februari, ketegangan di Timur Tengah meningkat. AS bersikukuh menuntut Iran menghentikan pengayaan nuklir, sementara Iran bersikeras programnya hanya untuk kepentingan sipil.

Matthew Hoh, mantan kapten Marinir AS dan analis di Center for International Policy, menyatakan kemungkinan perang sangat tinggi, terlihat dari peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. "Menurut saya, semua ini adalah persiapan untuk perang. Cara paling mungkin untuk menghindari perang saat ini adalah dengan menyerahnya Iran," ujarnya.

Skeptisisme Terhadap Perubahan Rezim

Para analis meragukan bahwa eskalasi militer akan menghasilkan demokrasi sekuler di Iran. Kamran Matin, dosen Hubungan Internasional di Sussex University, merujuk dokumen Strategi Keamanan Nasional AS yang menyatakan fokus telah bergeser dari Timur Tengah ke Cina.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Damon Golriz, analis strategi di Institut Geopolitik Den Haag, juga skeptis: "Ketahanan rezim Teheran setelah membunuh lebih dari 30.000 demonstran, tanpa pembelotan internal signifikan, menunjukkan betapa jauh transisi demokratis dari kenyataan." Kemungkinan yang lebih besar adalah munculnya pemerintahan militer otoriter atau, dalam skenario terburuk, keruntuhan negara dan perang regional.

Artikel ini mengungkap kompleksitas situasi di Iran, di mana mahasiswa terus berjuang di tengah pengawasan ketat, sementara ketegangan internasional mengancam stabilitas kawasan.