Luhut Soroti Ketangguhan Iran dalam Sidang Kabinet Bersama Prabowo
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan memberikan analisis mendalam mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang kabinet paripurna yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, pada Jumat, 13 Maret 2026.
Iran sebagai Bangsa Arya yang Sulit Ditaklukkan
Luhut menekankan bahwa Iran merupakan bangsa Arya yang memiliki ketangguhan luar biasa, sehingga tidak mudah untuk ditaklukkan oleh kekuatan asing. "Bangsa Iran ini sebenarnya bangsa Arya, jadi tidak mudah juga ditaklukkan," ujarnya di hadapan Prabowo dan seluruh anggota kabinet. Ia menjelaskan bahwa meskipun jumlah rudal yang ditembakkan Iran telah menurun tajam—sekitar 50 persen peluncuran rudal dilaporkan hancur—negara tersebut telah mengembangkan drone-drone murah yang dapat diluncurkan dari hampir semua lokasi.
Target Serangan AS dan Israel
Dalam paparannya, Luhut menguraikan target utama serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang mencakup tiga poin kritis:
- Melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran.
- Mengurangi kapasitas militer dan industri Iran secara signifikan.
- Menghancurkan arsenal serta tempat-tempat peluncuran rudal dan drone.
Ia menambahkan bahwa Iran cukup cerdik dengan menggunakan strategi peluncuran bergerak (mobile launching) untuk menghindari serangan langsung.
Konflik sebagai Perang Teknologi
Luhut menilai bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini lebih merupakan perang teknologi daripada konvensional. "Kalau kita lihat jumlah drone yang ditembakkan Iran menurun, terus menurun. Karena Amerika memang dari sumber data yang kami dapat, memang menargetkan untuk menghancurkan pabriknya, menghancurkan arsenal nya dan tempat-tempat peluncurannya," jelasnya. Namun, ia juga menyoroti kecerdikan Iran dalam beradaptasi dengan teknologi drone yang lebih fleksibel.
Pesan untuk Masyarakat Indonesia
Di akhir penyampaiannya, Luhut menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir berlebihan terhadap konflik ini. Ia menyebutkan bahwa meskipun situasi geopolitik global sedang memanas, Indonesia dapat tetap tenang dan fokus pada pembangunan dalam negeri. Analisis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai dinamika konflik Timur Tengah dan implikasinya bagi stabilitas regional.
