Agama Politik Sepanjang Generasi: Dari Nasionalisme ke Demokrasi
Agama Politik Sepanjang Generasi: Nasionalisme ke Demokrasi

Sepanjang sejarah modern, setiap generasi hampir selalu ditandai oleh 'agama politik' yang mereka peluk dengan khidmat. Agama politik ini bukan sekadar pilihan di atas kertas suara, melainkan jalan hidup eksistensial yang membentuk cara pandang, jejaring, dan identitas. Banyak orang rela kehilangan pekerjaan, dipenjara, bahkan mati demi mempertahankan keyakinan politiknya.

Nasionalisme Romantik Generasi 1945

Generasi 1945 dituntun oleh nasionalisme romantik. Semangat kemerdekaan dan anti-kolonialisme menjadi fondasi ideologis yang menyatukan berbagai elemen bangsa. Tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Hatta membangun narasi kebangsaan yang kuat, yang dihayati sebagai perjuangan suci. Nasionalisme pada masa itu bukanlah sekadar sentimen, melainkan sebuah kewajiban moral untuk membangun negara merdeka.

Antikomunisme dan Gairah Pembangunan Generasi 1966

Generasi 1966 dibelah oleh antikomunisme dan gairah pembangunan. Setelah peristiwa G30S, antikomunisme menjadi alat mobilisasi politik yang efektif. Di sisi lain, pembangunan ekonomi dan modernisasi menjadi agenda utama, di bawah kepemimpinan Orde Baru. Dua kutub ini—antikomunisme dan pembangunan—membentuk cara pandang generasi tersebut, yang sering kali saling bertentangan namun sama-sama mendalam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Demokrasi dan Kebebasan Sipil Generasi Reformasi

Sementara itu, Generasi Reformasi bernapas dalam takdir demokrasi dan kebebasan sipil. Reformasi 1998 membuka era baru, di mana kebebasan berpendapat, pers, dan berkumpul menjadi nilai utama. Generasi ini tumbuh dalam euforia demokrasi, dengan partisipasi politik yang lebih cair dan beragam. Identitas politik mereka tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh negara, melainkan oleh pilihan personal dan afiliasi kelompok.

Kesinambungan dan Perubahan Agama Politik

Setiap generasi memiliki agama politik yang berbeda, namun semuanya memiliki kesamaan: ideologi dihayati sebagai sesuatu yang sakral. Nasionalisme romantik, antikomunisme, dan demokrasi adalah tiga contoh bagaimana keyakinan politik bisa menjadi pusat identitas. Perubahan generasi tidak menghilangkan fenomena ini, hanya mengubah bentuknya. Di era digital, agama politik baru seperti lingkungan hidup, keadilan sosial, atau identitas gender mulai bermunculan, menunjukkan bahwa kebutuhan akan keyakinan politik tetap abadi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga