Polemik LCC MPR di Kalbar, Juri Dinilai Tidak Objektif
Polemik LCC MPR di Kalbar, Juri Dinilai Tidak Objektif

Jakarta - Keputusan juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat menuai polemik. MPR sampai meminta maaf atas insiden tersebut.

Awal Mula Polemik

Dirangkum dari berbagai sumber, polemik ini berawal saat juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang sama dari peserta. Dalam lomba tersebut, Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK. Namun, jawaban serupa yang disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas justru diberi nilai 10 oleh juri yang sama, yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita.

Peserta Grup C sempat memprotes karena merasa jawaban mereka sama. Namun juri menyatakan jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas. Sekjen MPR Siti Fauziah menyatakan panitia pelaksana melakukan penelusuran internal terkait penilaian jawaban peserta. Pihaknya menjamin akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis pelaksanaan lomba.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Gerindra Desak Juri Minta Maaf

Ketua Fraksi Gerindra MPR RI Habiburokhman kemudian memuji keberanian siswi SMA Negeri 1 Pontianak, Josepha Alexandra atau Ocha, yang langsung memprotes saat jawabannya dianggap salah dalam LCC MPR. Dia menyebut Ocha gigih memperjuangkan kebenaran.

“Kami mengapresiasi siswi SMA Negeri 1 Pontianak Josepha Alexandra alias Ocha peserta cerdas cermat yang gigih memperjuangkan kebenaran dalam acara tersebut. Sifat teguh hati dan berani dalam mempertahankan kebenaran patut kita teladani bersama,” kata Habiburokhman dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Habiburokhman mengkritik dewan juri hingga pembawa acara lomba tersebut. Dia menganggap juri hingga pembawa acara antikritik dan menilai mereka harusnya minta maaf ke Ocha.

“Di sisi lain kami menyayangkan sikap juri, panitia termasuk pembawa acara yang tidak mengakui kesalahan dan menunjukkan sikap antikritik. Selayaknya mereka meminta maaf kepada Ocha,” ucap dia.

Habiburokhman menyebut kesalahan juri dalam lomba cerdas cermat tersebut tidak bisa dianggap sepele. Dia meminta rangkaian lomba dihentikan sementara dan juri diganti.

“Jangan sampai maksud kita melakukan edukasi justru yang terjadi justru kontraproduktif. Kami mengusulkan agar juri acara tersebut diganti dan acara dihentikan sementara sampai ada jaminan perbaikan serius,” ujar dia.

MPR Minta Maaf dan Nonaktifkan Juri

MPR RI kemudian meminta maaf terkait polemik LCC tingkat Provinsi Kalbar. MPR menonaktifkan juri hingga pembawa acara atau MC dalam kegiatan lomba cerdas cermat tersebut.

“MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dewan juri yang menyebabkan polemik terkait pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Provinsi Kalimantan Barat,” demikian keterangan MPR dalam akun Instagram resminya.

MPR menyatakan lomba cerdas cermat harus menjunjung sportivitas. MPR menyatakan dewan juri harus objektif.

“MPR RI memahami bahwa kegiatan pendidikan dan pembinaan generasi muda, termasuk LCC Empat Pilar, harus menjunjung tinggi nilai sportivitas, objektivitas, keadilan, serta semangat pembelajaran yang konstruktif,” ujar MPR.

MPR kemudian menonaktifkan dewan juri dan MC pada acara cerdas cermat itu. MPR akan mengevaluasi kegiatan tersebut secara menyeluruh.

“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” kata dia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga