Selat Hormuz Memanas: Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle Bergerak ke Laut Merah
Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle Menuju Laut Merah

Kapal induk andalan Prancis, Charles de Gaulle, bersama kapal pengawalnya dikerahkan menuju Laut Merah bagian selatan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kemungkinan misi pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang saat ini terblokade.

Pergerakan Kapal Induk Charles de Gaulle

Dilansir dari AFP pada Rabu (6/5/2026), seorang ajudan Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa pergerakan ini dimaksudkan untuk mengirim sinyal kuat bahwa Prancis tidak hanya siap, tetapi juga mampu mengamankan Selat Hormuz. Lalu lintas di jalur perairan strategis tersebut, yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak mentah dunia, hampir sepenuhnya terhenti sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.

Kementerian Pertahanan Prancis mengonfirmasi bahwa kapal induk Charles de Gaulle beserta kapal pengawalnya saat ini sedang melintasi Terusan Suez dalam perjalanan menuju Laut Merah bagian selatan. Keputusan ini diambil untuk mengurangi waktu yang diperlukan dalam melaksanakan inisiatif pemulihan navigasi segera setelah situasi memungkinkan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Misi Multinasional dan Kekhawatiran Global

Lebih dari 40 negara telah memulai perencanaan militer terkait misi Hormuz setelah pembicaraan yang difasilitasi oleh Inggris. Ajudan Macron menegaskan bahwa Prancis bertindak karena blokade Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global semakin parah, dan risiko konflik berkepanjangan terlalu serius untuk diabaikan.

Presiden Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memimpin misi multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Mereka menekankan bahwa misi ini sepenuhnya bersifat defensif dan hanya akan dikerahkan setelah perang berakhir. Macron juga menyampaikan di platform X bahwa ia telah berbicara dengan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, mengenai keprihatinan mendalam atas eskalasi di kawasan Teluk di tengah mandeknya perundingan damai. Ia menulis, "Semua pihak harus mencabut blokade selat itu, tanpa penundaan dan tanpa syarat."

Serangan terhadap Kapal Perusahaan Prancis

Sebuah kapal milik perusahaan Prancis menjadi target serangan di Selat Hormuz. Serangan yang belum diketahui sumbernya itu menyebabkan kerusakan pada kapal dan sejumlah awak luka-luka. Insiden ini dilaporkan oleh perusahaan pelayaran Prancis, CMA CGM, yang mengonfirmasi bahwa kapal mereka, CMA CGM San Antonio, menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz pada Selasa (5/5) waktu setempat.

Kapal berbendera Malta itu diserang sehari setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan operasi militer bernama "Project Freedom" untuk mengawal kapal-kapal meninggalkan Selat Hormuz. Namun, Trump kemudian mengumumkan penghentian sementara proyek tersebut dalam upaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga