Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono meminta evaluasi menyeluruh terhadap seluruh fasilitas penyimpanan amunisi milik TNI setelah insiden ledakan Gudang Amunisi di Madiun, Jawa Timur, yang menewaskan satu prajurit dan melukai enam prajurit lainnya. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (16/7) di Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad), Saradan, Kabupaten Madiun.
Dave Laksono: Evaluasi Bukan untuk Mencari Kesalahan
Dave menyampaikan duka cita mendalam atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan prajurit dan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam sistem pertahanan negara. "Insiden ini menegaskan pentingnya peningkatan tata kelola serta standar keselamatan penyimpanan amunisi. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh fasilitas TNI merupakan langkah krusial, bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai upaya konstruktif agar sistem yang ada benar-benar aman dan sesuai dengan kebutuhan operasional," kata Dave saat dihubungi pada Jumat (17/7).
Menurut Dave, modernisasi fasilitas penyimpanan amunisi menjadi kebutuhan mendesak. Penerapan teknologi keselamatan mutakhir serta perbaikan infrastruktur diharapkan mampu menghadirkan sistem penyimpanan yang lebih terjamin, efisien, dan berkelanjutan. "Kami percaya bahwa melalui kerja sama erat antara Kementerian Pertahanan, TNI, dan lembaga terkait, bangsa Indonesia dapat membangun sistem pengelolaan amunisi yang lebih modern dan terpercaya," ujarnya.
Komisi I Akan Awal Proses Evaluasi
Dave menambahkan bahwa Komisi I DPR akan mengawal proses evaluasi tersebut agar setiap kebijakan yang diambil berorientasi pada keselamatan prajurit, masyarakat, dan kepentingan nasional. "Dengan semangat kebersamaan dan optimisme, kami yakin peristiwa ini akan menjadi momentum untuk memperkuat sistem pertahanan sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi negara," katanya.
Kronologi Ledakan Menurut TNI AD
TNI Angkatan Darat belum mengungkap kronologi detail peristiwa ledakan tersebut. Namun, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Donny Pramono menyatakan bahwa berdasarkan laporan awal, insiden terjadi saat personel TNI AD melaksanakan prosedur pemeriksaan dan perawatan materiil munisi di salah satu gudang penyimpanan. "Melaksanakan harwat, pemeliharaan dan perawatan yang memang sudah melalui prosedur-prosedur yang sudah dijalankan dan prosedur-prosedur itu sudah melalui protap-protap mulai dari briefing awal sampai pelaksanaan," kata Donny dalam konferensi pers.
Akibat ledakan tersebut, satu orang personel TNI dinyatakan meninggal dunia, empat orang mengalami luka berat, dan dua orang lainnya mengalami luka ringan. "Sesaat setelah kejadian, satuan segera melakukan evakuasi seluruh korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis secara cepat sekaligus melaporkan secara prosedural dan berjenjang," ujar Donny.
Dampak dan Langkah Selanjutnya
Ledakan ini menjadi perhatian serius bagi DPR dan TNI. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan. Modernisasi fasilitas penyimpanan amunisi menjadi salah satu prioritas untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan. Dengan koordinasi antara Kementerian Pertahanan, TNI, dan lembaga terkait, diharapkan sistem pengelolaan amunisi yang lebih baik dapat terwujud.



