Jarum jam hampir menunjukkan pukul 23.00 WIB ketika Yusuf Satria Baskoro (22) kembali mengetuk sebuah pintu rumah di Desa Bantarwaru, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Malam sudah larut. Sebagian besar warga mungkin telah beristirahat setelah seharian beraktivitas. Tetapi bagi Yusuf, malam itu pekerjaannya belum selesai. Ia berdiri di depan rumah responden yang sejak selumbari sulit ditemui. Bukan karena warga tersebut menolak didata, melainkan kesibukan yang membuat waktu luangnya baru tersedia menjelang tengah malam. Yusuf datang setelah lebih dulu mendapat persetujuan pemilik rumah melalui pesan WhatsApp.
Kesibukan Warga Jadi Tantangan Petugas Sensus
Yusuf adalah salah satu petugas sensus lapangan yang bertugas mendata penduduk di wilayah Banjarnegara. Tugasnya memastikan setiap warga tercatat dalam sensus nasional yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, tak semua warga mudah ditemui pada jam kerja normal. Banyak yang bekerja dari pagi hingga sore, bahkan hingga malam hari. Menurut Yusuf, warga yang ditemuinya pada malam itu adalah seorang buruh tani yang baru pulang dari sawah. "Dia biasanya pulang larut, jadi saya harus menyesuaikan jadwal," ujarnya.
Komunikasi Digital Memudahkan Koordinasi
Untuk mengatur pertemuan, Yusuf memanfaatkan aplikasi perpesanan instan. Sehari sebelumnya, ia mengirim pesan WhatsApp kepada responden tersebut. "Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia menjawab dan memberi tahu kalau malam itu baru bisa ditemui. Saya langsung setuju," kata Yusuf. Pendekatan ini menjadi salah satu cara petugas sensus menghadapi mobilitas tinggi warga. Dengan koordinasi yang baik, data sensus tetap dapat dikumpulkan meskipun responden memiliki jadwal padat.
Demi Data yang Akurat dan Tepat Waktu
Petugas sensus seperti Yusuf memiliki target jumlah rumah tangga yang harus didata setiap harinya. Dalam kondisi normal, ia bisa menyelesaikan 5-6 rumah tangga per hari. Namun, pada hari itu, karena satu responden baru bisa ditemui malam hari, ia harus bekerja ekstra. "Saya tidak masalah. Yang penting data yang terkumpul benar-benar akurat. Kalau saya tidak mau menunggu, nanti malah ada yang terlewat," jelasnya. BPS menegaskan pentingnya data sensus yang lengkap untuk perencanaan pembangunan daerah.
Dedikasi Petugas Sensus di Tengah Keterbatasan
Kisah Yusuf bukanlah satu-satunya. Banyak petugas sensus di berbagai daerah yang menghadapi tantangan serupa, mulai dari akses lokasi sulit hingga responden yang tak kunjung ada di rumah. Namun, mereka tetap berupaya maksimal untuk menyelesaikan tugas. "Kami dilatih untuk bersabar dan kreatif dalam mencari solusi. Ini demi kebaikan bersama," tambah Yusuf. Dengan semangat seperti itu, proses sensus diharapkan berjalan lancar dan menghasilkan data berkualitas.
Apresiasi dari Warga
Warga yang ditemui Yusuf malam itu menyambut baik kedatangannya. Meski sudah larut, ia tetap memberikan informasi secara lengkap. "Saya merasa terbantu karena petugasnya mau menyesuaikan waktu. Biasanya saya tidak sempat ketemu petugas pada jam kerja," kata responden yang enggan disebutkan namanya. Kerja sama antara petugas dan warga menjadi kunci keberhasilan sensus.
Kesimpulan
Yusuf Satria Baskoro adalah contoh dedikasi petugas sensus di lapangan. Dengan pendekatan humanis dan memanfaatkan teknologi, ia mampu menjangkau responden yang paling sibuk sekalipun. Kisahnya menunjukkan bahwa sensus bukan hanya soal angka, melainkan juga tentang kehadiran dan kepercayaan.



