Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menghentikan sementara operasi militer yang dikenal dengan nama Project Freedom. Keputusan ini diambil pada Selasa, 5 Mei 2026, di tengah upaya mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Pengumuman tersebut langsung berdampak pada pasar energi global, di mana harga minyak mentah AS tercatat turun lebih dari 2,30 dolar AS per barel, menjadi di bawah 100 dolar AS per barel. Penurunan ini menjadi sinyal positif setelah lonjakan harga energi yang terjadi dalam dua bulan terakhir akibat konflik di kawasan Teluk.
Latar Belakang Project Freedom
Project Freedom merupakan operasi militer yang baru berjalan satu hari sebelum dihentikan. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menjelaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk mengawal kapal-kapal tanker yang terjebak di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz. Selat tersebut telah ditutup sejak konflik pecah, sehingga menghambat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan memicu krisis energi global. Rubio menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz, karena Iran telah menutup jalur tersebut secara efektif dengan ancaman ranjau, drone, rudal, dan kapal cepat. Sebagai respons, AS memblokade pelabuhan Iran dan mengerahkan pengawalan militer.
Respons Iran dan Negosiasi Damai
Hingga Rabu, 6 Mei 2026 pagi, belum ada tanggapan langsung dari Iran terkait pernyataan Trump. Pemerintah AS juga belum memberikan rincian mengenai kemajuan negosiasi dengan Iran atau durasi penghentian operasi. Trump menyatakan bahwa penghentian sementara ini dilakukan untuk melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran bisa segera difinalisasi. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel telah menyelesaikan Operasi Epic Fury, yang dinyatakan selesai oleh Rubio. "Kami tidak menginginkan eskalasi baru," ujarnya. Salah satu tujuan utama serangan tersebut adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, sebuah tuduhan yang dibantah Iran. Namun, Iran disebut belum menyerahkan lebih dari 900 pon uraniumnya.
Dampak di Lapangan
Di tengah penghentian operasi, Badan Maritim Inggris melaporkan adanya serangan terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, meskipun detailnya belum jelas. Menteri Perang AS, Pete Hegseth, sebelumnya menyatakan bahwa jalur pelayaran telah berhasil diamankan dan ratusan kapal komersial boleh melintas. Ia menambahkan bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat minggu dengan Iran masih bertahan. "Untuk saat ini gencatan senjata tetap berlaku, tapi kami akan terus memantau dengan sangat ketat," ujarnya. Pimpinan Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, memperingatkan bahwa serangan Iran terhadap pasukan AS masih berpotensi memicu kembali operasi tempur besar.
Reaksi Uni Emirat Arab dan Iran
Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa sistem pertahanannya kembali menghadapi serangan rudal dan drone yang diklaim berasal dari Iran. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai eskalasi serius dan ancaman langsung terhadap keamanan nasional, serta menyatakan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk membalas. Iran menolak tudingan tersebut dan menyatakan bahwa aksi militernya hanya bertujuan menahan agresi AS.
Dampak Ekonomi Global
Perang yang meluas hingga Lebanon dan kawasan Teluk telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global. Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan dampaknya masih akan terasa selama tiga hingga empat bulan, bahkan jika konflik segera berakhir. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik belum menemukan titik terang. AS dan Iran baru sekali menggelar perundingan tatap muka, sementara upaya pertemuan lanjutan belum berhasil. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa pembicaraan damai masih berlangsung dengan mediasi Pakistan. Ia juga dilaporkan tiba di Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026, untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Cina guna membahas perkembangan regional dan internasional.



