BGN Evaluasi Penerima MBG: Sekolah Mampu Tak Perlu Lagi
BGN Evaluasi Penerima MBG: Sekolah Mampu Tak Perlu Lagi

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang mengumumkan rencana refocusing penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah menghentikan pemberian MBG di sekolah-sekolah yang siswanya dinilai sudah memiliki akses gizi yang baik.

Prioritas pada Anak yang Membutuhkan

"Kami akan refocusing penerima manfaat. Rasanya tidak perlu kalau sekolah-sekolah yang tergolong mampu. Di rumah, kebutuhan gizinya kemungkinan juga sudah lebih baik," kata Nanik usai dilantik menjadi Kepala BGN di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). BGN akan memfokuskan program MBG kepada anak-anak dan kelompok yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi. Pihaknya akan menghitung ulang jumlah penerima manfaat program tersebut.

"Apakah 63 juta penerima manfaat saat ini benar-benar membutuhkan, atau justru bisa dikurangi lalu dialihkan kepada mereka yang belum memperoleh MBG," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Efisiensi Anggaran Tanpa Mengurangi Kualitas

Nanik menegaskan BGN akan berfokus pada efisiensi anggaran agar tidak membebani keuangan negara. Namun, ia memastikan langkah tersebut tidak akan mengurangi kualitas gizi yang diterima para penerima manfaat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menghentikan sementara pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG baru. BGN juga akan mengevaluasi tata kelola 27.877 dapur MBG yang ada saat ini.

"Kami akan menata apakah dapur yang ada sudah mampu melayani kebutuhan penerima manfaat atau justru berlebih. Karena itu, untuk sementara kami tidak membuka dapur baru maupun pendaftaran baru," tutur Nanik.

Sebaran Dapur MBG Terkonsentrasi di Jawa

Menurut dia, sebaran dapur MBG saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Karena itu, BGN akan mengevaluasi kebutuhan dapur di setiap daerah. "Kami akan menata kebutuhan dapur di masing-masing provinsi, misalnya Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Dari data yang kami miliki, dapur MBG masih menumpuk di Pulau Jawa," katanya. "Setelah penataan selesai, baru kami hitung apakah perlu membuka kembali pembangunan dapur baru atau tidak," sambung Nanik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga