Trump Pertimbangkan 'Operasi Sledgehammer' Jika Perang Iran Berlanjut
Trump Pertimbangkan 'Operasi Sledgehammer' untuk Iran

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk meluncurkan kembali operasi militer terhadap Iran dengan nama yang berbeda, salah satunya 'Operasi Sledgehammer', jika gencatan senjata rapuh yang diberlakukan sejak awal April kolaps. Demikian laporan media AS NBC News, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (13/5/2026).

Latar Belakang Operasi Sledgehammer

Menurut laporan tersebut, para pejabat AS sedang membahas penggantian nama operasi militer terhadap Iran, yang sebelumnya disebut 'Operasi Epic Fury', jika Trump memutuskan untuk memulai kembali operasi tempur skala besar. Pembahasan ini mencerminkan meningkatnya harapan di dalam pemerintahan Trump bahwa perang dengan Iran dapat berlanjut di tengah upaya diplomatik yang terhenti dan ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz.

Beberapa pejabat pemerintahan Trump meyakini bahwa penggunaan nama baru dapat memperkuat argumen Gedung Putih mengenai operasi yang diperbarui merupakan tindakan militer terpisah berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang 1973. Resolusi ini membatasi berapa lama seorang presiden dapat melakukan operasi militer tanpa persetujuan Kongres AS.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan Pejabat AS

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio baru-baru ini mengatakan kepada wartawan bahwa 'Operasi Epic Fury' telah berakhir setelah Washington dan Teheran sepakat untuk menghentikan permusuhan bulan lalu dan melanjutkan negosiasi. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kemampuan militer AS di kawasan telah meningkat sejak awal konflik berkecamuk pada akhir Februari lalu.

Pentagon atau Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan langsung mengenai laporan tersebut.

Ketegangan Regional Meningkat

Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Iran juga secara efektif membatasi aktivitas perlintasan di Selat Hormuz, jalur perairan yang penting untuk pasokan minyak dan gas global.

Gencatan senjata diberlakukan sejak 8 April lalu melalui mediasi Pakistan, namun perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen. Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Ancaman Terhadap Gencatan Senjata

Baru-baru ini, gencatan senjata itu terancam setelah Trump menolak proposal terbaru yang diajukan Iran untuk merespons rencana perdamaian usulan AS. Trump menyebut proposal Teheran itu sebagai proposal 'bodoh' dan 'sampah'. Dia juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam 'kondisi kritis'. Trump bahkan dilaporkan sedang mempertimbangkan serangan militer terbaru untuk menekan Teheran.

Pemerintah Iran, pada Selasa (12/5), menolak gagasan untuk mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa 'tidak ada alternatif lainnya' selain menerima syarat-syarat dalam proposal 14 poin yang diajukan Iran untuk perdamaian Timur Tengah, atau menghadapi 'kegagalan'.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga