Israel kembali melancarkan serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan dua warga sipil Palestina, demikian dilaporkan koresponden Aljazeera di lapangan pada Kamis (30/7/2026). Serangan terpisah ini terjadi di Kota Gaza dan Khan Younis, menambah panjang daftar korban jiwa sejak apa yang disebut sebagai gencatan senjata diberlakukan.
Kronologi Serangan
Serangan pertama dilakukan oleh pesawat nirawak (drone) Israel yang menyasar sekelompok warga sipil di Kota Gaza. Akibatnya, satu orang tewas dan sejumlah lainnya terluka, termasuk anak-anak. Serangan kedua menghantam wilayah barat Khan Younis di Jalur Gaza bagian selatan, menewaskan satu orang dan melukai satu orang lainnya.
Koresponden Aljazeera melaporkan bahwa kedua serangan terjadi secara terpisah dan tidak ada peringatan sebelumnya. Warga setempat masih berusaha mengevakuasi korban dari lokasi kejadian.
Dampak Gencatan Senjata
Sejak gencatan senjata yang rapuh diberlakukan, angka kematian terus bertambah. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.200 warga Palestina tewas dan 3.943 orang terluka akibat serangan Israel. Selain itu, sebanyak 803 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat bombardir.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati, serangan sporadis masih kerap terjadi. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di Gaza.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Dalam
Sejak konflik meletus, lebih dari 60.000 anak di Gaza kehilangan satu orang tua akibat serangan Israel, menurut laporan sebelumnya. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan masih adanya serangan udara yang menargetkan warga sipil.
Organisasi internasional mengecam keras serangan terhadap warga sipil dan mendesak penghentian kekerasan. Namun, hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi konflik.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas terus berlangsungnya kekerasan di Gaza dan menyerukan solusi damai sesuai hukum internasional.



