Populer Tren edisi Rabu (29/7/2026) hingga Kamis (30/7/2026) pagi didominasi oleh tiga topik utama: pemecatan Briptu MZ terkait perampokan toko emas, panduan membaca pelat nomor kendaraan di Indonesia, dan gempa bumi berkekuatan M 7,1 yang mengguncang Jepang hingga menyebabkan mal runtuh. Berikut rangkuman selengkapnya.
Briptu MZ Dipecat karena Terlibat Perampokan Toko Emas
Topik yang memuncaki daftar Populer Tren adalah berita mengenai pemecatan Briptu MZ, seorang anggota Polri, yang terbukti terlibat dalam kasus perampokan toko emas. Menurut informasi yang dihimpun Kompas.com, Briptu MZ resmi dipecat setelah melalui proses sidang disiplin. Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan oknum aparat penegak hukum. Perampokan tersebut dilaporkan terjadi di sebuah toko emas di wilayah tertentu, namun detail lebih lanjut mengenai waktu dan lokasi masih dalam penyelidikan. Pemecatan ini diharapkan menjadi efek jera bagi personel Polri lainnya yang berniat melanggar hukum.
Cara Membaca Pelat Nomor Kendaraan di Indonesia
Artikel kedua yang banyak dibaca adalah panduan tentang cara membaca pelat nomor kendaraan di Indonesia. Pelat nomor, atau Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), memiliki arti khusus dari huruf, angka, dan warna. Menurut tulisan di Kompas.com, huruf awal pada pelat menunjukkan kode wilayah, misalnya B untuk Jakarta, D untuk Bandung, dan seterusnya. Warna pelat juga memiliki makna: pelat hitam untuk kendaraan pribadi, kuning untuk kendaraan umum, merah untuk kendaraan dinas, dan hijau untuk kendaraan di kawasan bebas cukai. Angka di pelat nomor merupakan nomor registrasi yang diberikan oleh kepolisian. Informasi ini membantu masyarakat memahami identitas kendaraan.
Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Mal Ambruk untuk Kedua Kalinya
Artikel ketiga dalam daftar Populer Tren adalah laporan tentang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Jepang. Gempa tersebut menyebabkan sebuah mal runtuh, dan yang mengejutkan, mal tersebut baru saja dibuka kembali setelah sebelumnya juga ambruk akibat gempa. Menurut pemberitaan Kompas.com, peristiwa ini menjadi perhatian karena menunjukkan kerentanan infrastruktur terhadap bencana alam. Belum ada laporan lengkap mengenai jumlah korban jiwa, namun pihak berwenang Jepang masih melakukan evakuasi dan penilaian kerusakan. Gempa ini juga memicu peringatan tsunami di beberapa wilayah pesisir, meskipun kemudian dicabut.



