Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi Israel menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel. Netanyahu menyebut kehilangan ini sebagai kehilangan besar bagi Israel dan Amerika.
"Lindsey memahami bahwa keamanan Israel dan Amerika tidak dapat dipisahkan," kata Netanyahu dalam pernyataan resmi. "Israel telah kehilangan salah satu sahabat terbaiknya. Amerika telah kehilangan seorang patriot hebat. Saya telah kehilangan seorang sahabat tercinta," imbuhnya, seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/7/2026).
Ucapan Belasungkawa dari Pejabat Israel
Presiden Israel Isaac Herzog, Menteri Pertahanan Israel Katz, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, dan mantan perdana menteri Naftali Bennett juga menyampaikan duka cita melalui media sosial X. Mereka menyebut Graham sebagai teman sejati Israel dan salah satu pendukung terkuat negara itu di kancah internasional.
Lindsey Graham meninggal dunia pada Sabtu (11/7) malam waktu AS dalam usia 71 tahun, tepat sehari setelah kembali dari kunjungan ke Ukraina. Kematiannya memicu spekulasi terkait dugaan keterlibatan Rusia atau Iran, meskipun kantor Graham telah menjelaskan penyebab kematiannya.
Penyebab Kematian dan Kunjungan ke Ukraina
Menurut pernyataan resmi kantor Graham yang dilansir BBC dan Al Jazeera, senator senior dari South Carolina itu meninggal karena "sakit mendadak". Juru bicara kantor Graham menjelaskan bahwa temuan awal dari pemeriksa medis menunjukkan kematian disebabkan oleh pecahnya aorta, arteri utama pada jantung.
Graham baru saja kembali dari Kyiv, Ukraina, di mana ia bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelensky pada Jumat (10/7) waktu setempat. Tidak ada masalah kesehatan yang diketahui sebelum perjalanan tersebut. Zelensky dalam pernyataan di media sosial X menyatakan "sangat berduka" atas wafatnya Graham.
Dukungan Keras terhadap Israel dan Iran
Semasa hidup, Graham dikenal sebagai pendukung gigih bantuan persenjataan AS untuk Ukraina dan sanksi terhadap Rusia. Ia juga merupakan pendukung kuat invasi militer AS ke Irak dan lama mendorong aksi militer terhadap Iran. Graham mendukung penuh upaya mantan Presiden Donald Trump dalam memerangi Teheran.
Bulan lalu, dalam wawancara dengan CBS, Graham mengatakan bahwa AS akan "meluluhlantakkan" Iran jika negara itu tidak tunduk pada kendali AS atas Selat Hormuz. Wawancara tersebut menjadi salah satu penampilan televisi terakhirnya.
Kepergian Lindsey Graham meninggalkan duka mendalam bagi Israel dan sekutunya di Amerika Serikat. Para pemimpin Israel menegaskan bahwa warisan dukungannya terhadap keamanan Israel akan terus dikenang.



