Pilot Tabrak Menara CITIC karena Alasan Pribadi
Pihak berwenang China akhirnya buka suara mengenai insiden tabrakan pesawat kecil ke Menara CITIC, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, pada 26 Juni lalu. Dalam pernyataan resmi pada Kamis (2/7), pemerintah Distrik Chaoyang mengungkapkan bahwa pilot, yang diidentifikasi hanya dengan nama keluarga Liu, menderita insomnia kronis dan gangguan kecemasan. Tindakan nekat itu dilakukan karena alasan pribadi.
Korban dan Kronologi Insiden
Liu, warga Beijing berusia 66 tahun, adalah seorang pekerja lepas yang telah bercerai dan tinggal sendirian. Buku hariannya berisi banyak ungkapan keinginan untuk mengakhiri hidup. Tabrakan tersebut menewaskan pilot, satu-satunya orang di dalam pesawat, serta melukai 13 orang lainnya. Satu korban luka telah dipulangkan dari rumah sakit.
Pada sore hari insiden, Liu menerbangkan pesawat dari bandara di Distrik Pinggu. Ia melakukan penerbangan pendamping dan penerbangan tunggal. Dalam penerbangan tunggalnya, ia keluar dari area yang ditentukan, kehilangan kontak dengan bandara, lalu menabrak gedung bertingkat tinggi dan tewas di lokasi. Liu memperoleh lisensi pilot olahraga pada 2021 dan lisensi pilot pribadi pada 2024.
Sensor Ketat dan Spekulasi Publik
Sebelum pernyataan resmi, aparat China bungkam selama hampir seminggu. Satu-satunya pernyataan resmi adalah laporan 60 kata di Beijing Daily. Rekaman dramatis telah dihapus dari internet. Setidaknya tiga perusahaan penerbangan mengatakan kepada BBC bahwa mereka diperintahkan menangguhkan operasi pesawat ringan, namun menolak menjelaskan lebih lanjut. "Kami diberi tahu untuk tidak membicarakannya. Silakan tanya pihak lain," kata seorang perempuan di lembaga pelatihan penerbangan Beijing.
Sensor meluas hingga foto dan meme gedung pencakar langit yang tidak terkait insiden juga dihapus. Manya Koetse, pengelola buletin Eye on Digital China, mengatakan mesin sensor bergerak cepat dan menyeluruh karena kepemimpinan Beijing "masih belum sepenuhnya yakin apa yang terjadi." Ini adalah insiden sangat tidak biasa yang mempertanyakan kompetensi pemerintah dan mengancam narasi penting partai.
Pelanggaran Keamanan Besar
Beijing memiliki zona larangan terbang permanen seluas 100 km persegi di atas kawasan inti pemerintahan, termasuk Zhongnanhai. Analis China Bill Bishop menyebut insiden itu sebagai "pelanggaran keamanan besar." Raymond Kuo dari Chicago Council of Global Affairs mengatakan fakta bahwa pesawat kecil mampu terbang melintasi kota dan mendekati Zhongnanhai merupakan "hal yang memalukan secara politik dan merupakan kelalaian keamanan besar."
Chong Ja Ian dari Carnegie China membandingkan insiden ini dengan penerbangan Mathias Rust pada 1987 yang mendarat di Lapangan Merah. Saat itu, sejumlah pejabat tinggi dicopot. Demikian pula, beberapa pejabat mungkin akan dicopot terkait kecelakaan ini. "Sebuah pesawat kecil yang menabrak Menara CITIC berarti drone atau rudal juga mungkin bisa melakukannya. Ini sedikit memalukan bagi layanan keamanan yang bertanggung jawab atas Beijing," kata Chong.
Spekulasi Motif dan Dampak
Pesawat yang digunakan adalah Aurora SA60L bermesin tunggal dua kursi buatan Sunward Aircraft, dengan panjang 6,9 meter dan bentang sayap 8,6 meter, biasa digunakan untuk wisata dan fotografi udara. Di luar China, insiden ini mengingatkan pada serangan 11 September 2001. Seorang pengguna Reddit menulis, "Ini persis seperti peringatan berita yang saya terima ketika sebuah pesawat menabrak menara pertama saat 9/11."
Pemerintah China menyimpulkan kasus ini sebagai tindakan membahayakan keselamatan publik karena alasan pribadi. Namun, kekosongan informasi awal memicu spekulasi mengenai bagaimana pesawat bisa menembus salah satu kawasan udara paling ketat di dunia.



