Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyerukan penolakan terhadap segala bentuk perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan. Hal ini menyusul dugaan bahwa perundungan menjadi salah satu pemicu kasus ledakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, pada Selasa (14/7).
Pigai menegaskan bahwa kasus bullying harus menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah. Ia bahkan mengungkapkan pengalaman pribadinya sebagai korban bullying dan rasisme.
Pigai: Saya Juga Korban Rasis
"Saya saja korban rasis, apalagi rakyat? Rakyat maupun saya ini korban rasis," kata Pigai di kompleks parlemen, Rabu (15/7). Ia mengaku banyak melihat ucapan dan praktik rasisme terhadap dirinya di unggahan media sosial. Ucapan rasisme itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi menggunakan akun anonim. "Coba lihat itu media komen-komen tuh, komennya ulang-ulang, ketika kita buka akunnya akun anonim," ujarnya.
Pigai menegaskan sejak dulu memiliki sikap tegas untuk menolak bullying. Namun, masalahnya, lembaga-lembaga yang diberi kewenangan menindak perundungan di media sosial tidak bekerja optimal. Padahal, ada sekitar lima lembaga yang memiliki kewenangan untuk menghentikan perundungan paling nyata di media sosial.
Pertanyaan Pigai ke Polisi
"Masalahnya kenapa mereka tidak mau? Kenapa mereka tidak mau? Contoh contoh, kan banyak juga yang rasis ke saya. Pertanyaan saya sederhana saja, saya kan pejabat negara kenapa polisi tidak mau hentikan? Kan itu sederhana," ujarnya. Menurut dia, pernyataan tersebut juga sebagai bentuk otokritik. Oleh karena itu, Pigai menilai menghapus bullying harus lebih banyak dilakukan masyarakat, individu, komunitas.
"Kemudian juga masyarakat, komunitas, individu, keluarga, dunia pendidikan harus berperan untuk menghentikan bullying-nya," katanya.
Pelaku Ledakan MAN 3 Padang Korban Bully
Polisi telah mengamankan pelajar berinisial R dalam kasus ledakan di MAN 3 Padang. Remaja 17 tahun itu diduga merupakan pemilik bom rakitan yang meledak. Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya menjelaskan, terduga pelaku nekat melakukan aksinya lantaran kerap menjadi korban bully atau perundungan di sekolah. "Sehingga dia membalas dengan jalan pintas membuat bom dengan ledakan rendah atau low eksplosif," katanya.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, mengatakan pelaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring karena terinspirasi oleh aksi serupa di SMAN 72 Jakarta. "Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh TIM Penyelidik," tuturnya.



