Sebuah croissant dengan tampilan tidak biasa baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Croissant tersebut memiliki topping yang menyerupai rambut ketiak atau rambut kemaluan manusia, dan bahkan ada yang menambahkan saus berwarna putih di atasnya. Kreasi unik ini memicu beragam reaksi dari warganet di berbagai negara, yang sebagian besar menganggapnya menjijikkan.
Asal-usul Croissant Kontroversial
Croissant kontroversial ini berasal dari Thailand, tepatnya dari toko roti bernama Saiwan Bakehouse. Toko roti tersebut terinspirasi dari tren "hairy cake" atau kue berbulu yang sempat populer sebelumnya. Dalam unggahan di media sosial, croissant tersebut disajikan dengan lapisan topping berwarna cokelat kehitaman yang menyerupai rambut, serta saus putih yang menambah kesan kontroversial.
Reaksi Warganet Global
Video dan foto croissant tersebut menyebar luas di platform seperti Twitter, Instagram, dan TikTok. Banyak warganet yang menyatakan rasa jijiknya. "Ini benar-benar menjijikkan, saya tidak bisa melihatnya," tulis seorang pengguna Twitter. Selain itu, beberapa warganet mengkritik kreasi tersebut karena dianggap tidak menghormati Perancis, negara yang mempopulerkan croissant sebagai makanan klasik. "Sebagai orang Perancis, saya merasa terhina. Croissant adalah simbol budaya kami, bukan untuk dijadikan lelucon seperti ini," ujar seorang warganet asal Perancis.
Fenomena Hairy Cake di Thailand
Fenomena "hairy cake" sendiri sudah muncul sebelumnya di Thailand. Kue berbulu ini biasanya dibuat dengan menambahkan lapisan frosting yang dibentuk menyerupai rambut. Saiwan Bakehouse kemudian mengadaptasi konsep tersebut ke dalam croissant. Menurut pemilik toko roti, kreasi ini bertujuan untuk menarik perhatian dan memberikan pengalaman unik bagi pelanggan. "Kami hanya ingin berkreasi dan memberikan sesuatu yang berbeda. Tidak ada maksud untuk menyinggung siapa pun," jelas pemilik Saiwan Bakehouse dalam wawancara dengan media lokal.
Dampak pada Bisnis
Meskipun menuai kontroversi, Saiwan Bakehouse justru mendapatkan popularitas yang meningkat. Banyak pelanggan penasaran dan datang untuk mencoba croissant tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang tetap menolak dan menganggapnya sebagai bentuk pelecehan terhadap makanan. Beberapa pakar kuliner menilai bahwa tren seperti ini bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. "Ini memang unik, tetapi risiko reputasi juga besar. Pelaku usaha harus siap dengan kritik yang datang," ujar seorang analis kuliner.
Kesimpulan
Croissant berbulu ini menjadi contoh bagaimana kreasi makanan bisa memicu reaksi global. Di satu sisi, inovasi seperti ini dapat menarik perhatian dan meningkatkan popularitas bisnis. Di sisi lain, risiko menyinggung kelompok tertentu atau merusak citra makanan klasik juga perlu dipertimbangkan. Hingga saat ini, Saiwan Bakehouse masih menjual croissant tersebut dan terus menerima berbagai tanggapan dari pelanggan.



