Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Amerika Serikat pada Senin, 27 Juli 2026, untuk bertemu Presiden Donald Trump. Pesawat yang membawanya terdeteksi melintasi wilayah udara sejumlah negara anggota Mahkamah Pidana Internasional (ICC), meskipun ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang Gaza.
Rute Penerbangan Melewati Negara Anggota ICC
Data pelacakan penerbangan dari Flightradar, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (28/7/2026), menunjukkan bahwa pesawat Netanyahu melewati Yunani, Italia, dan Prancis dalam perjalanan menuju Washington DC. Ketiga negara tersebut merupakan anggota ICC dan penandatangan Statuta Roma, yang mewajibkan mereka untuk menegakkan surat perintah penangkapan ICC. Menurut hukum internasional, setiap negara anggota memiliki kewajiban untuk menangkap individu yang menjadi subjek surat perintah ICC jika berada di wilayah yurisdiksi mereka.
Rute ini hampir identik dengan perjalanan Netanyahu sebelumnya ke AS pada 28 Desember 2025 dan 10 Februari 2026. Namun, dalam penerbangan ke New York pada September 2025, pesawatnya hanya melintasi Yunani dan Italia tanpa memasuki wilayah udara Prancis.
Surat Perintah Penangkapan ICC dan Respons Netanyahu
ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada 2014, menyatakan bahwa terdapat dasar kuat untuk meyakini bahwa ia bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Meskipun demikian, Netanyahu tidak menunjukkan kekhawatiran. Dalam wawancara dengan Fox News baru-baru ini, ia mengatakan, "Saya tidak khawatir, dan saya tentu berniat untuk hadir." Pernyataan ini menanggapi rencana kunjungannya ke New York pada September mendatang untuk Sidang Majelis Umum PBB, di mana Wali Kota New York Zohran Mamdani mendesak penangkapan Netanyahu dengan menyebutnya sebagai "penjahat perang".
Pembicaraan dengan Trump: Fokus pada Iran
Kunjungan ini dilakukan atas undangan Trump, yang telah menegaskan bahwa Netanyahu "tidak akan ditangkap" selama di AS. Kedua pemimpin dijadwalkan membahas isu-isu strategis, dengan Iran sebagai topik utama. Netanyahu menyatakan, "Tujuan kami adalah menjaga keamanan kami sekaligus memperluas cakupan perdamaian di sekitar kami." Selain itu, Netanyahu juga akan menghadiri pemakaman mendiang Senator Lindsey Graham, yang dikenal sebagai pendukung setia Israel.
Implikasi Hukum dan Politik
Keputusan Netanyahu untuk melintasi negara-negara ICC menunjukkan ketidakpedulian terhadap surat perintah penangkapan internasional. Status AS sebagai non-anggota ICC membuatnya tidak memiliki kewajiban untuk menangkap Netanyahu, namun tekanan dari Wali Kota New York dan kelompok hak asasi manusia tetap menjadi sorotan. Trump sebelumnya telah membela Netanyahu, menegaskan bahwa penangkapan tidak akan terjadi. Kunjungan ini berpotensi memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Eropa yang mendukung ICC, serta memperkuat tuntutan agar Israel mempertanggungjawabkan tindakannya di Gaza.



