Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Setelah gencatan senjata sementara dinyatakan berakhir oleh Presiden Donald Trump pada KTT NATO di Ankara, Rabu (8/7), AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran. Iran membalas dengan menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Negara-negara Teluk lainnya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman, juga berada dalam posisi rawan. Berikut analisis dampak konflik terhadap masing-masing negara.
Bahrain: Sasaran Langsung Serangan Iran
Bahrain menjadi lokasi pangkalan utama Angkatan Laut AS. Dalam serangan terbaru Iran, negara ini menjadi sasaran langsung. Karena ukurannya yang kecil, instalasi militer AS berada dekat dengan permukiman dan pusat ekonomi. Konflik berskala terbatas sekalipun dapat mengganggu kehidupan sipil. Dari sisi politik, Bahrain rumit: keluarga kerajaan beraliran Sunni, sementara mayoritas penduduk diperkirakan Syiah. Iran adalah negara teokrasi Syiah. Konflik berpotensi memicu ketegangan internal. Pemerintah Bahrain telah menangkap ratusan orang yang diduga mengunggah pesan anti-perang, menyatakan simpati pada Iran, mengikuti demonstrasi, atau dituduh sebagai mata-mata Iran.
Kuwait: Target Serangan karena Pangkalan AS Terbanyak
Kuwait menampung jumlah pangkalan militer AS terbanyak di Timur Tengah, dengan dua pangkalan udara dan sekitar 13.500 personel termasuk kontraktor sipil. Hal ini menjadikan Kuwait target serangan Iran. Sebelumnya, Kuwait cenderung hati-hati dalam kebijakan luar negeri, sering menjadi mediator. Pengalaman invasi Irak 1990 membentuk pendekatan tersebut. Namun, serangan Iran diperkirakan mengubah sikap Kuwait. Protes pemerintah Kuwait terhadap serangan Iran kini disampaikan dengan nada lebih tegas.
Arab Saudi: Menjaga Keseimbangan
Meskipun Iran belum menyerang Arab Saudi hingga pekan ini, negara itu merupakan lokasi pangkalan utama Angkatan Udara AS. Setelah bersaing memperebutkan pengaruh, Arab Saudi kini menekankan diplomasi sebagai satu-satunya cara hidup damai. Mereka lebih fokus pada target ekonomi Vision 2030 daripada perang. Prioritas utama Arab Saudi adalah mencegah konflik meluas dan melindungi infrastruktur minyak. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran memaksa Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak melalui jalur pipa ke Laut Merah. Pejabat Arab Saudi berusaha menjaga keseimbangan, tetap berkomunikasi dengan Iran dan AS. Pada satu tahap, Arab Saudi dilaporkan menolak memberikan akses wilayah udara kepada AS untuk menyerang Iran, namun laporan lain menyebut mereka juga melakukan serangan terhadap Iran tanpa dipublikasikan.
Uni Emirat Arab: Risiko Reputasi Ekonomi
UEA menjadi lokasi pangkalan udara penting AS. Iran sebelumnya pernah menyerang UEA, tetapi belum melakukannya lagi dalam konflik pekan ini. Konflik berkepanjangan berisiko merusak reputasi Abu Dhabi dan Dubai sebagai pusat keuangan dan perdagangan internasional, yang penting bagi strategi ekonomi UEA mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak. UEA mampu mengalihkan ekspor minyak dari Selat Hormuz melalui jaringan pipa darat, namun konflik lama berpotensi mengganggu jalur tersebut.
Qatar: Hubungan Baik dengan Iran dan Mediator
Qatar menjadi lokasi Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah. Di sisi lain, Qatar memiliki hubungan relatif baik dengan Iran, berbagi ladang gas alam terbesar. Iran belum menyerang Qatar secara langsung pekan ini, namun serangan sebelumnya terhadap kapal Qatar di laut memicu gelombang serangan terbaru. Diplomat Qatar disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia, sering menjadi mediator dalam konflik AS-Iran, termasuk membantu merumuskan nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran pada Juni lalu.
Oman: Fasilitator Diplomasi
Oman tidak menjadi lokasi pangkalan militer utama AS. Negara ini mempertahankan hubungan baik dengan AS dan Iran, serta sering memfasilitasi diplomasi tertutup. Seperti Qatar, Oman memiliki peluang untuk kembali menyediakan ruang perundingan antara pihak yang berkonflik. Peran tersebut diperkirakan tetap penting dalam waktu dekat.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris. Diadaptasi oleh Rahka Susanto. Editor: Rizki Nugraha.



