Tim SAR dan relawan masih berupaya mencari korban selamat di antara puing-puing bangunan setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela. Hingga saat ini, gempa tersebut telah menewaskan setidaknya 235 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang. Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 2.927 keluarga kehilangan tempat tinggal akibat bencana ini.
Gempa Susulan dan Dampak Lanjutan
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan bahwa telah terjadi 30 gempa susulan setelah dua gempa utama berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5. Dana sebesar US$200 juta (Rp3,26 triliun) telah dikucurkan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur dan rumah-rumah warga yang rusak.
Palang Merah dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memobilisasi bantuan. Palang Merah Venezuela saat ini sudah beroperasi dan memberikan respons. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebutkan bahwa kebutuhan paling mendesak meliputi pencarian orang, penyelamatan, tempat penampungan darurat, dan layanan kesehatan. Air bersih dan sanitasi, bersama dengan kebutuhan pokok rumah tangga, diperkirakan menjadi prioritas dalam beberapa hari ke depan.
Mobilisasi Bantuan Internasional
Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, menyampaikan bahwa sebuah tim gerak cepat sedang dipersiapkan untuk mendukung tim PBB yang sudah ada di Venezuela. Ia menambahkan bahwa bencana ini berisiko memperparah kerentanan yang sudah ada sebelumnya. Fletcher mengungkapkan bahwa delapan juta orang sebenarnya sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan di Venezuela sebelum gempa terjadi, dan ia mendesak adanya upaya kolektif masif untuk mendukung penanggulangan yang dipimpin oleh pemerintah.
Presiden AS Donald Trump dalam unggahan di Truth Social menyatakan bahwa Amerika Serikat siap membantu. Trump menginstruksikan semua lembaga pemerintah untuk bersiap bergerak cepat. Jeremy Lewin, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Bantuan Luar Negeri, mengatakan AS akan mengirimkan tim SAR, pasokan medis, dan bantuan kemanusiaan. Departemen Luar Negeri AS memiliki tim bantuan bencana yang bekerja sama dengan pemerintahan sementara Venezuela.
Negara-negara Amerika Latin juga menawarkan bantuan. Presiden El Salvador, Nayib Bukele, menyiapkan 50 ton peralatan dan logistik serta 300 anggota tim SAR yang siap diberangkatkan ke Caracas. Ekuador mengatur bantuan untuk segera dikirim, sementara Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mengatakan akan menilai langkah bantuan untuk mendukung negara saudara tersebut. Menteri Luar Negeri Meksiko, Roberto Velasco Álvarez, menawarkan solidaritas dan dukungan penuh.
Kondisi Terkini dan Dampak Gempa
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengonfirmasi bahwa sejumlah rumah dan gedung runtuh akibat gempa. Seluruh badan keamanan dan bantuan, perlindungan sipil, relawan, pemadam kebakaran, dan polisi telah dikerahkan. Cabello mendesak warga di daerah terdampak untuk meninggalkan bangunan. Layanan gas alam dihentikan sebagai langkah pencegahan, sementara layanan listrik dan sinyal internet terputus di beberapa bagian kota.
Gempa terjadi pada hari libur nasional, peringatan Pertempuran Carabobo, sehingga lebih banyak orang berada di rumah. Video di media sosial menunjukkan puluhan orang berteriak dan berlari di Bandara Internasional Maiquetía ketika terjadi kerusakan signifikan.
Lembaga Survei Geologi AS (USGS) melaporkan bahwa gempa pertama berkekuatan 7,2 terjadi pada pukul 18:04 waktu setempat, berpusat dekat San Felipe, sekitar 280 km barat Caracas. Gempa susulan berkekuatan 7,5 terjadi sesaat setelahnya, berpusat dekat Yumare. USGS memperkirakan ada 44% kemungkinan jumlah korban jiwa melebihi 10.000 orang, dan memperingatkan risiko tanah longsor serta likuifaksi.
Keselamatan WNI dan Kisah Korban
Pemerintah Indonesia melalui KBRI Caracas memastikan seluruh WNI yang terdata di Venezuela, sebanyak tiga orang, dalam kondisi aman, selamat, dan sehat. Gedung KBRI Caracas dan Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural berarti. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan bahwa KBRI Caracas telah berkoordinasi dan membuka jalur komunikasi darurat untuk memantau perkembangan.
Jurnalis BBC Mundo, Nicole Koster, yang merasakan gempa di lantai 7 apartemennya di pusat Caracas, mengatakan, "Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup. Saya melihat jendela-jendela besar bergerak. Guncangannya begitu kuat hingga saya pikir bangunan itu akan runtuh menimpa saya." Ia mendengar suara orang-orang meminta pertolongan di reruntuhan. Warga lain, Maria Elise, melaporkan dinding apartemen retak, tiang listrik tumbang, dan tidak ada listrik atau sinyal.
Seorang perempuan berusia 80 tahun di selatan Caracas mengatakan kepada Reuters, "Bangunan tempat tinggal saya bergoyang. Polisi membantu saya turun karena saya tidak bisa." USGS memperingatkan gempa susulan masih mungkin terjadi.
Penyebab Gempa Venezuela
Venezuela terletak di zona aktif seismik tempat lempeng tektonik Karibia dan Amerika Selatan bertemu. Menurut USGS, gempa kedua terjadi akibat pergeseran patahan mendatar yang dangkal di dekat batas kedua lempeng. Gempa bumi terjadi ketika patahan bergerak secara horizontal dengan cepat. USGS menyatakan bahwa dua gempa hari ini kemungkinan menunjukkan proses interaksi patahan yang kompleks, dan gempa susulan berpotensi menimbulkan guncangan kuat.



