Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah upaya perundingan damai gagal mencapai kesepakatan. Kedua negara kini saling melontarkan ancaman serius, meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Latar Belakang Konflik
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran yang menewaskan sedikitnya 3.468 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta fasilitas AS di Semenanjung Arab. Gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan kemudian disepakati, namun perundingan gagal menghasilkan kesepakatan damai.
Blokade Selat Hormuz
Iran dan AS sama-sama menerapkan blokade terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Penasihat militer utama Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengancam akan mengubah Teluk Oman menjadi kuburan bagi kapal-kapal AS jika blokade laut tidak segera diakhiri. "Saran saya kepada AS secara militer adalah mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda," ujar Rezaei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5). Ia menegaskan bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan Iran berhak meresponsnya.
Ancaman dari Trump
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa Iran harus segera menyetujui kesepakatan damai atau "tidak akan ada yang tersisa dari mereka." Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan tim keamanan nasional pada Selasa (19/5) untuk membahas opsi militer terhadap Iran. Menurut laporan Axios, Trump menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri perang, namun penolakan Iran terhadap tuntutan AS telah mempertimbangkan kembali opsi militer.
Pembicaraan dengan Netanyahu
Trump juga berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (17/5) untuk membahas kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran. Netanyahu sebelumnya menyatakan akan membahas perjalanan Trump ke China dan isu Iran dalam percakapan tersebut.
Syarat-Syarat Perundingan
AS menetapkan lima syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, termasuk pembatasan fasilitas nuklir Teheran dan penyerahan uranium Iran. Empat syarat lainnya mencakup penolakan kompensasi perang, transfer 400 kilogram uranium ke AS, penahanan 25 persen aset Iran yang dibekukan, dan penghentian perang di semua front. Iran juga mengajukan lima syarat, yaitu mengakhiri perang di semua front terutama Lebanon, mencabut sanksi, melepaskan aset yang dibekukan, memberikan kompensasi kerusakan perang, dan pengakuan hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Ketegangan terus meningkat, dan dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua negara yang masih berseteru ini.



